Pendapat itu dikemukakan Peter Sheras, seorang psikolog dan profesor Curry School of Education dari University of Virginia. Menurut Sheras, remaja umumnya menyimpan banyak kemarahan dan merasa frustasi sehingga mereka berusaha untuk merilekskan diri.
Remaja masa kini pun disebutnya kerap sangat terikat dengan komunikasi virtual. Seperti dikutip detikINET dari ABCNews, Jumat (6/2/2009), Sheras mengatakan remaja akibatnya menjadi kesulitan dalam hubungan antar-manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus-kasus kematian yang memiliki hubungan erat dengan gadget tercatat semakin marak terjadi. Beberapa kasus yang mencuat termasuk seorang pemuda di Ohio membunuh ibunya hanya gara-gara video gamenya disita.
Di Michigan, Amerika Serikat, dilaporkan seorang pemuda tega membunuh kedua orangtuanya juga hanya karena sebuah ponsel.Β Sang pemuda, Marshall Sosby, membunuh kedua orangtuanya hanya karena ponselnya disita.
Kehilangan akal sehat seperti ini juga pernah dialami oleh seorang gadis 13 tahun di Buffalo, New York. Gadis bernama Jermea Simmons itu tega membakar rumahnya sendiri di saat 10 anggota keluarganya sedang tidur.
Dalam kejadian itu, kakek tiri sang gadis meninggal. Tragisnya, anak 13 tahun itu melakukan pembakaran hanya karena ponselnya disita.
Beginilah jika sebuah gadget tidak lagi dikendalikan oleh pemiliknya, namun gadget yang mengendalikan si empunya. Kecanduan barang-barang tersebut bisa mengakibatkan mereka, khususnya remaja, merasa panik hingga kehilangan akal sehat jika suatu saat barang tersebut tidak ada di samping mereka.
Meski demikian para ahli sepakat kasus yang terjadi tidak bisa disalahkan pada gadget atau game. John Grohol, psikolog dan pendiri situs PsychCentral.com, mengatakan telah bertahun-tahun remaja menggunakan teknologi tanpa menjadi pembunuh atau bunuh diri saat terpisah dari gadgetnya.
"Isunya adalah tentang cara orang tua mendidik dan mendisiplinkan anakanya, bukan semata-mata soal teknologi," ujar Grohol.
(wsh/wsh)