Pasalnya, hampir semua anggota lokal BSA mengeluhkan sulitnya mendapat kepercayaan dari sektor industri karena mereka berpredikat perusahaan lokal. Sehingga kesan yang ditimbulkan, mereka lebih memilih nama besar produk luar negeri ketimbang produk lokal.
"Padahal perusahaan multinasional saja telah menggunakan produk kami," ujar Direktur Utama PT Intelix Global Crossing Irmawan Sadikin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perusahaan saya ini menyasar konsumen korporat, tetapi para perusahaan ini kesannya agak alergi terhadap produk lokal," tukasnya dalam jumpa pers pengumuman bergabungnya PT Intelix Global Crossing di Sampoerna Strategic Tower, Kamis (22/1/2009).
Tak hanya PT Intelix, PT Zahir Internasional yang juga salah satu anggota lokal BSA, kerap mendapat perlakuan serupa. "Namun ketika dijelaskan, kami merupakan anggota BSA yang merupakan lembaga anti piracy dari Amerika, mereka respek dengan itu," imbuhnya di tempat yang sama.
Menjadi penyambung lidah antara anggotanya dengan pemerintah memang bakal menjadi salah satu fokus kerja BSA di 2009. "Kita akan bantu untuk melobi ke pemerintah agar lebih memperhatikan industri software lokal, karena kita tak kalah dengan produsen software asing," tukas Kepala Perwakilan BSA di Indonesia Donny A. Sheyoputra.
Dikatakan Donny, BSA sendiri sejatinya telah beberapa kali berdiskusi dengan pemerintah untuk membahas industri software ini. "Tapi kala itu lebih membicarakan sosialisasi hak cipta software dan penegakkan hukumnya, nanti akan lebih membahas soal bagaimana menumbuhkan industri software ini," pungkasnya. (ash/fyk)