Menurut Kabag Humas Ditjen Postel Gatot S. Dewa Broto, aksi ini berjalan karena para operator telekomunikasi memberikan layanan tersebut gratis, tanpa mengklaim biaya ke pemerintah.
Dijelaskan Gatot, aksi SMS anti narkoba dari Presiden SBY ini bermula dari inisiasi Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, pihak BNN mengundang pemerintah dalam hal ini Ditjen postel dan penyelenggara telekomunikasi untuk membahas rencana tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operator pun mengaku tak keberatan dengan rencana ini dan ikut mendukung. Namun, lanjut Gatot, mereka hanya mensyaratkan isi SMS yang akan dikirimkan tak lebih dari 160 karakter, agar dapat ditampung dalam satu pesan.
Gatot menolak jika aksi ini dianggap sebagai bentuk kampanye terselubung bagi SBY dalam rangka menyambut pemilu 2009. Kalau seperti itu, tegasnya, pemerintah tidak akan memfasilitasi.
"Ini kan yang punya inisiatif BNN, tak ada pesan sponsor. Istana juga kita undang, jadi hanya karena ada kegiatan nasional saja (Hari Sumpah Pemuda-red.)," tandasnya. (ash/fyk)