Hal ini terungkap dalam kunjungan yang penulis lakukan saat memberi program motivasi ke daerah-daerah luar Jakarta, serta kunjungan langsung tim dari YMN ke beberapa SLB di Jawa Timur. Dalam perjalanan itu, penulis menemui beberapa siswa yang belajar di lembaga-lembaga tersebut.
Di Jember, siswa-siswa tunanetra yang duduk di bangku SD dan SMP tampak kebingungan ketika ditanya perihal komputer bicara. "Emangnya ada mas komputer yang bisa bicara?" Tanya mereka dengan nada heran. Lalu, ketika ditunjukkan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak pembaca layar, mereka tampak terperangah. Tapi, kemudian, sebagian besar mereka cukup antusias mendengarkan dan mencermati suara yang muncul dari notebook yang penulis bawa.
"Kok ngomongnya pakai bahasa Inggris?" Tanya salah seorang dari mereka. Dan, seperti yang terjadi di Jember, keheranan serupa juga ditemui ketika bertemu dengan para tunanetra di kota-kota lain; Banyuwangi, Malang, Lawang, dan Ponorogo.
Lain di Jember, lain pula Di Malang. Di kota apel ini, ada seorang tunanetra yang mengaku telah banyak membaca tentang komputer bicara, namun belum memiliki kesempatan untuk mempelajarinya. Dengan sangat antusias, Ranto, begitu nama tunanetra tersebut, mengatakan kalau dia sangat ingin menguasai komputer bicara. "Saya haus dengan komputer bicara, saya betul-betul ingin belajar," ungkap Ranto penuh semangat. Ia, Katanya, sangat merasa iri dengan teman-teman di kota lain yang sudah lebih dahulu tersentuh teknologi ini.
Apa yang dirasakan Ranto - dan mungkin banyak tunanetra lain di Indonesia yang belum berkesempatan belajar komputer bicara - nampaknya cukup bisa dimengerti. Penguasaan Teknologi Informasi (TI) sepertinya sudah menjadi kemutlakan sekarang ini, termasuk bagi kalangan tunanetra. Kemampuan para tunanetra di bidang TI tak diragukan lagi akan membuat mereka lebih siap bersaing dalam kehidupan, baik di bidang pendidikan, maupun dalam mencari peluang kerja.
Namun demikian, ada juga sebagian tunanetra yang kelihatan tak begitu perduli. Sepertinya mereka berpikir, komputer bicara terlalu asing atau mewah bagi mereka, dan terlalu kecil kesempatan mereka untuk dapat mempelajari serta mengambil manfaat bagi darinya.
Apriori? Mungkin begitu. Tapi, hal ini tentu saja tidak harus menjadi hambatan dalam memasyarakatkan TI di kalangan tunanetra. Karena bisa jadi, apriori itu akan berubah menjadi senyuman optimistis manakala tunanetra itu telah memiliki wawasan yang benar tentang pentingnya komputer bicara dalam kehidupan mereka, bukan begitu?
Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com. (wsh/wsh)