Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Smart Glasses Boleh Dipakai, Tapi Jangan Rekam Orang Tanpa Izin

Smart Glasses Boleh Dipakai, Tapi Jangan Rekam Orang Tanpa Izin


Adi Fida Rahman - detikInet

Wasa Wirman, Tech Reviewer
Lampu indikator di smart glasses sebelum dan sesudah kamera aktif saat memotret atau merekam video. Foto: Instagram/@wasawirman
Daftar Isi
Jakarta -

Smart glasses dengan kamera seperti Ray-Ban Meta semakin populer di kalangan kreator konten karena memungkinkan pengguna merekam video dari sudut pandang orang pertama (POV) secara praktis tanpa harus memegang ponsel atau kamera.

Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan perdebatan soal privasi. Belakangan, media sosial diramaikan oleh kasus seorang kreator konten Indonesia yang merekam seorang usher di pameran otomotif GIIAS 2026 menggunakan smart glasses tanpa persetujuan. Rekaman itu kemudian diunggah dengan narasi 'cara deketin cewek' dan memicu kritik luas dari warganet karena dinilai melanggar etika serta privasi orang yang direkam.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab penggunanya. Tech reviewer Wasa Wirman menilai smart glasses pada dasarnya bukan perangkat yang dirancang untuk merekam orang secara diam-diam, melainkan untuk mendokumentasikan aktivitas pengguna dari sudut pandang mereka sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Kalau ngomongin Ray-Ban Meta, sebenarnya kameranya nggak benar-benar tersembunyi. Dari depan masih kelihatan dua bulatan kamera di dekat engsel, dan saat merekam juga ada lampu LED sebagai indikator," ujarnya kepada detikINET.

Menurutnya, keberadaan lampu indikator tersebut memang dirancang agar orang di sekitar mengetahui saat kamera sedang aktif, sehingga membantu menjaga privasi.

Smart Glasses Cocok untuk Konten POV

Wasa menilai keunggulan utama smart glasses bukan untuk merekam orang lain, melainkan menghasilkan konten POV yang lebih natural.

Perangkat ini cocok digunakan saat traveling, berjalan kaki, mengendarai sepeda, hingga membuat video unboxing atau review produk. Pengguna tidak perlu lagi membawa tripod, bracket ponsel, atau kamera mirrorless hanya untuk mengambil rekaman singkat.

"Yang paling beda tentu perspektifnya. Penonton bisa melihat persis apa yang dilihat kreatornya, jadi terasa lebih natural dibanding pakai HP atau action camera," katanya.

Karena itu, menurut Wasa, smart glasses lebih tepat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan aktivitas pribadi daripada menjadikan orang lain sebagai objek utama.

Wasa Wirman, Tech ReviewerWasa Wirman, Tech Reviewer Foto: Instagram/@wasawirman

Minta Izin Sebelum Merekam

Wasa menekankan batas yang harus dipahami setiap kreator ketika menggunakan kamera wearable di ruang publik. Apabila seseorang hanya melintas di latar belakang, hal tersebut masih tergolong wajar. Namun situasinya berbeda jika wajah seseorang menjadi fokus utama konten.

"Kalau orangnya jadi inti cerita, menurut saya lebih baik minta izin dulu. Kasih tahu mau bikin konten dan merekam pakai kacamata ini. Kalau mereka berkenan ya lanjut, kalau tidak ya jangan dipaksa," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar kreator menghormati para petugas pameran, SPG, SPB, maupun usher yang sedang bekerja.

"Mereka berdiri seharian untuk bekerja. Etika dan adab harus dipikirkan juga, jangan egois," tambahnya.

Jangan Viral dengan Melanggar Privasi

Belakangan muncul konten yang merekam orang asing menggunakan smart glasses lalu diunggah dengan narasi seperti 'cara mendekati cewek'. Wasa mengaku tidak pernah terpikir membuat konten semacam itu.

Menurutnya, masih banyak ide konten teknologi yang lebih bermanfaat daripada mengejar perhatian lewat pelanggaran privasi.

"Konten seperti itu menurut saya dipaksakan dan tidak mendidik. Masih banyak konten yang lebih bermanfaat daripada 'cara deketin cewek'," katanya.

Ia juga menilai tidak pantas jika kreator meminta ganti biaya produksi ketika diminta menghapus video yang melanggar privasi orang lain.

"Hahaha... nggak wajar lah. Orang yang direkam saja juga nggak dapat apa-apa," ujarnya.

Menurut Wasa, komunitas kreator sudah saatnya memiliki kebiasaan sederhana saat menggunakan smart glasses, yakni selalu meminta izin sebelum menjadikan seseorang sebagai objek utama konten.

Di sisi lain, penyelenggara acara juga bisa mulai menyusun panduan yang lebih jelas mengenai penggunaan kamera wearable karena teknologi ini semakin umum digunakan.

Meski belum tentu membutuhkan regulasi baru, ia menilai edukasi dan penegakan aturan yang sudah ada jauh lebih penting saat ini.

"Teknologi makin ke sini makin smart. Karena itu etika sebagai kreator juga harus ikut smart. Jangan sampai demi konten kita mengabaikan rasa nyaman orang lain," tutupnya.



(afr/rns)




Hide Ads