×
Ad

Harga Flashdisk dan Kartu Memori Meroket Akibat Tren AI

Anggoro Suryo - detikInet
Senin, 20 Apr 2026 11:20 WIB
Ilustrasi flashdisk. Foto: Getty Images
Jakarta -

Berdasarkan temuan terbaru dari Tom's Hardware yang merujuk pada investigasi PCWorld, harga kartu memori dan flashdisk (USB drive) tercatat melonjak dengan rata-rata 123 persen dibandingkan tahun lalu.

Angka tersebut bahkan baru nilai tengahnya saja. Dalam salah satu contoh kasus ekstrem, harga kartu memori Lexar Blue microSDXC UHS-I berkapasitas 256GB dilaporkan meroket gila-gilaan hingga menyentuh angka 261 persen secara tahunan.

Laporan tersebut bahkan tidak menemukan satu pun contoh kasus di mana harga produk memori tetap stabil atau mengalami penurunan. Dalam setiap sampel yang diteliti, grafik harganya selalu menunjukkan kenaikan tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini bisa terjadi karena kartu memori dan flashdisk masih menggunakan chip NAND yang dibuat dari wafer pada jalur produksi yang sama dengan cip untuk kebutuhan SSD. Perbedaan peruntukannya biasanya hanya terletak pada penggolongan kelas kualitas cipnya saja.

Masalahnya, para pelanggan pusat data AI saat ini bersedia membayar sangat mahal demi mendapatkan chip NAND berkualitas tinggi. Pabrikan tentu saja dengan senang hati memprioritaskan pesanan raksasa tersebut dan mengoptimalkan jalur produksi mereka.

Imbasnya, pasokan chip NAND kelas bawah yang biasanya digunakan untuk pembuatan kartu memori dan USB drive menjadi sangat terbatas di pasaran. Situasi mencekik ini pada akhirnya memaksa beberapa merek besar untuk lebih fokus pada lini produk premium.

Awal bulan ini saja, SanDisk nekat merilis kartu SD berkapasitas 2TB yang dibanderol dengan harga mencengangkan, yakni USD 2.000 atau sekitar Rp 32 juta. Angka selangit itu bahkan sudah termasuk potongan diskon sebesar USD 500 (sekitar Rp 8 juta).

Beruntungnya, krisis pasokan ini diprediksi tidak akan bertahan selamanya dan harga akan kembali normal suatu saat nanti. Namun pertanyaan terbesarnya, kapan hal tersebut akan benar-benar terjadi?

Sebagian pengamat meyakini situasi harga selangit ini bisa berlangsung cukup lama hingga tahun 2027 mendatang. Sementara itu pihak lain menunjuk pada penurunan harga RAM DDR5 baru-baru ini sebagai bukti bahwa koreksi harga pasar sebenarnya sudah mulai berjalan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (20/4/2026).



Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"

(asj/asj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork