×
Ad

Laris Manis, Samsung Genjot Produksi Galaxy S26 Series

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 11 Apr 2026 11:45 WIB
Laris Manis, Samsung Genjot Produksi Galaxy S26 Series Foto: Adi FR/detikINET
Jakarta -

Galaxy S26 series sepertinya diterima sangat baik oleh konsumen, sampai Samsung dilaporkan mendongkrak produksi ponsel flagship terbarunya. Menariknya, bukan Galaxy S26 Ultra yang peningkatan produksinya paling besar.

Menurut laporan dari ZDNet Korea, Samsung meminta pemasoknya untuk menambah produksi komponen Galaxy S26 series menjadi 3 juta unit untuk bulan April, naik dari 2,4 juta yang direncanakan sebelumnya. Jika dijabarkan per model, produksi Galaxy S26 sebesar 1,3 juta unit, Galaxy S26+ sebesar 200.000 unit, dan Galaxy S26 Ultra sebesar 1,5 juta unit.

Tidak mengherankan kalau Galaxy S26 Ultra memiliki porsi paling besar karena model ini biasanya jadi varian yang paling laris. Produksi Galaxy S26 Ultra naik 200.000 unit yang mengindikasikan permintaan untuk model ini masih sangat tinggi.

Namun, model dengan peningkatan produksi paling besar adalah Galaxy S26, yang naik 500.000 unit berdasarkan rencana produksi baru. Sementara itu, Samsung mengurangi rencana produksi Galaxy S26+ sebanyak 100.000 unit.

Seorang petinggi di industri dari pemasok komponen melaporkan volume produksi untuk Galaxy S26 series melampaui ekspektasi pada Maret 2026. Petinggi ini juga mengklaim Galaxy S26 Ultra menyumbang 70% hingga 80% total permintaan Galaxy S26 series.

Laporan ini juga mengklaim Samsung telah menurunkan target produksi untuk ponsel di segmen menengah seperti Galaxy A57. Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini awalnya berencana memproduksi 1,8 juta unit Galaxy A57 pada bulan April, tapi volumenya diturunkan menjadi 1,6 juta unit.

Samsung Galaxy S26 Series Foto: Adi FR/detikINET

Sementara itu, rencana produksi untuk Galaxy A17 juga dikurangi dari 4,4 juta unit menjadi 3,9 juta unit, seperti dikutip dari SamMobile, Sabtu (11/4/2026).

Penjualan ponsel segmen menengah dan entry level diprediksi menurun tahun ini karena krisis memori global. Karena harga memori yang makin mahal dibandingkan komponen lainnya, vendor lebih mengutamakan produksi ponsel flagship dan high-end untuk mempertahankan marginnya.

Bagaimana di Indonesia?




(vmp/vmp)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork