Soal Daya Saing TI, Indonesia Masih Terbelakang
- detikInet
Jakarta -
Menurut studi The Economist Intelligence Unit (EIU) yang dipublikasikan Business Software Alliance (BSA), Amerika Serikat menempati rangking tertinggi dalam menyediakan lingkungan dan infrastruktur paling baik untuk pertumbuhan industri Teknologi Informasi (TI).Sementara, negara tercinta Indonesia terpuruk di posisi 57. Untuk negara-negara di Asia Tenggara yang turut diteliti, posisi Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Vietnam yang berada di urutan 61. Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina berturut-turut menempati posisi 11, 36, 41 dan 47.Studiitu merangking 64 negara berdasarkan beberapa faktor seperti kepemilikan komputer, adopsi broadband, regulasi pemerintah untuk bidang TI, keterlibatan perguruan tinggi,jumlah pekerja TI, dana penelitian dan pengembangan serta keberadaan hukum cyber. Menggunakan sebanyak 25 faktor, EIU menempatkan Amerika Serikat di peringkat pertama diikuti Jepang, Korea Selatan, Inggris Raya dan Australia di peringkat kelima. "Amerika Serikat masih menjadi magnet bagi pekerja TI dari luar negeri," sebut Denis McCauley, direktur EIU bidang penelitian teknologi global seperti dikutip detikINET dari Infoworld, Jumat (13/7/2007).Sementara, dua negara berkembang dengan kemajuan pesat di bidang ekonomi, India dan Cina masing-masing hanya menempati peringkat 46 dan 49. Tiga tempat terakhir diisi Iran, Nigeria dan Azerbaijan. Rendahnya rangking India dan Cina disebabkan masih sedikitnya perlindungan terhadap properti intelektual serta belum banyaknya kepemilikan komputer dan investasi untuk penelitian.BSA melakukan studi ini agar pemerintah yang berniat bisa menggunakannya sebagai referensi untuk meningkatkan daya saing industri Teknologi Informasi di negara mereka.
(dwn/amz)