Qualcomm: Skor Benchmark Bukan Segalanya

Qualcomm: Skor Benchmark Bukan Segalanya

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 08 Mar 2021 21:41 WIB
Snapdragon 888
Snapdragon 888. Foto: Qualcomm
Jakarta -

Salah satu aspek yang lazim dibandingkan antara satu ponsel dengan ponsel lain adalah skor dari benchmark atau uji sintetis. Namun bagi Qualcomm, skor benchmark ini bukanlah segalanya.

Hal ini diutarakan Dominikus Susanto, Senior Business Develpment Qualcomm Indonesia dalam jumpa pers virtual, Senin (8/3/2021). Menurutnya, ada aspek yang lebih penting dalam pengukuran kinerja sebuah prosesor, atau tepatnya system on a chip (SoC) seperti Snapdragon 888, yaitu user experience atau pengalaman pengguna.

"Skor AnTuTu yang tinggi belum tentu memberikan user experience yang tinggi. Karena pengguna tak tak melulu memelototi skor tinggi di uji sintetik (seperti AnTuTu-red)," ujar Dominikus dalam acara tersebut.

Pengalaman pengguna dalam menggunakan ponsel ini, menurut Dominikus, contohnya adalah browsing, yang membutuhkan koneksi internet. Sehingga semakin kencang, maka pengalamannya akan semakin baik. Ini ditentukan oleh chip konektivitas, baik seluler maupun WiFi.

Lalu kemampuan pemrosesan gambar saat dipakai memotret, ini tak melulu ditentukan oleh kemampuan CPU, melainkan lebih banyak ditentukan oleh kecepatan image signal prosesor (ISP), atau prosesor gambar, yang di Snapdragon bernama Spectra.

Ada juga hal lain seperti kejernihan suara saat melakukan panggilan telepon dengan sinyal yang terbatas.

"Misalnya sinyal hanya dua bar tapi suara tetap jernih. Hal seperti ini tak dihitung menggunakan AnTuTu dan sejenisnya. Jadi lebih fair kalau diuji secara keseluruhan," pungkasnya.

Snapdragon 888 sendiri adalah SoC flagship Qualcomm terbaru yang dirilis pada Desember 2020 lalu. Ponsel pertama yang menggunakan SoC ini adalah Xiaomi Mi 11, yang dirilis secara global pada Februari lalu. Belum diketahui kapan ponsel ini akan dirilis di Indonesia, namun yang jelas ponselnya sudah mendapat sertifikat TKDN.

Dominikus pun angkat bicara soal anggapan bahwa Snapdragon 888 menghasilkan panas yang berlebihan, alias overheat, sehingga membutuhkan pendingin khusus. Menurutnya, Snapdragon 888 dirancang agar fleksibel, alias bisa menyesuaikan kebutuhan pabrikan ponsel.

"Soal pendingin itu bagian dari OEM (original equipment manufacturer) untuk menciptakan cooling seperti apa. Ini (Snapdragon 888) dirancang fleksibel. Jadi OEM bisa menentukan performance seperti apa yang ingin dicapai," pungkas Dominikus.

Maksudnya adalah, pabrikan pembuat ponsel bisa menentukan mau membuat ponsel yang seperti apa. Apakah ingin yang performanya tinggi, yang berarti harus memberikan pendingin yang cukup.

"Soal thermal harus didesain dari awal. Mau performa yang seperti apa. Panas itu niscaya akan ada. Jadi harus disebar dan dibuang ke luar ponsel," tutup Dominikus.



Simak Video "Unboxing Mi 11, Smartphone Pertama dengan Snapdragon 888!"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)