Kamis, 14 Nov 2019 09:00 WIB

Laporan dari Singapura

Huawei Pede Ekosistemnya Makin Moncer

Rachmatunnisa - detikInet
President Huawei Consumer Cloud Service Zhang Pingan Foto: Rachmatunnisa/detikINET President Huawei Consumer Cloud Service Zhang Ping'an Foto: Rachmatunnisa/detikINET
Singapura - Pembatasan perdagangan di Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan pada Huawei, terlihat mulai melunak. Hal ini secara tersirat diungkapkan President Huawei Consumer Cloud Service Zhang Ping'an.

Meski hubungan dengan Google membaik, Huawei tetap menyiapkan sekoci penyelamat dengan memperkuat ekosistem miliknya. Ada banyak alasan yang membuat Huawei optimistis ekosistemnya akan terus berkembang dan makin moncer.

"Huawei Consumer Business Group terus tumbuh menguat di pasar global. Saat ini Huawei adalah pemasok smartphone terbesar kedua di dunia, dengan pengapalan melampaui 200 juta unit dari Januari hingga Oktober 2019," kata Ping'an memaparkan kekuatan Huawei saat ini, di panggung APAC Huawei Developer Day (AHDD) di Singapura.

Di samping itu, pengapalan produk Huawei lainnya juga memperlihatkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Secara rinci, Ping'an menyebut untuk produk PC mengalami kenaikan 214%, smart audio 233% dan wearable device 272%. Portfolio yang menggembirakan ini, membuat Huawei semakin pede dengan ekosistemnya.


"Ini waktunya bagi kami memperkenalkan Huawei Ecosystem, seiring kami berevolusi ke fase yang matang di industri ini," sebutnya.

Di acara ini, Huawei berbagi visinya membangun ekosistem terbuka dan kehidupan digital yang serba terkoneksi dalam berbagai skenario. Ekosistem ini akan meliputi Huawei Mobile Services (HMS), Huawei devices, jaringan 5G dan aplikasi berbasis artificial intelligence (AI).

"Huawei Ecosystem berakar di HMS dan diselaraskan dengan strategi yang kami namakan '1 + 8 + N'. Ini membantu mitra kami mempercepat inovasi digital dengan mengintegrasikan bisnis mereka ke platform kami," jelas Ping'an.

Toko aplikasi Huawei, Huawei AppGallery, sudah memulai layanannya secara global sejak April 2018. Huawei AppGallery didukung oleh lebih dari 1,07 juta developer terdaftar, dan lebih dari 50 ribu aplikasi sudah terintegrasi dengan HMS core. Ini adalah modal kuat bagi mereka.

"Kurang dari dua tahun, kami sudah mencatat lebih dari 390 juta monthly active users (MAU) dengan total download 180 miliar kali setahun," tambahnya.

Huawei sendiri mengaku tidak pernah tahu kapan pembatasan perdagangan AS akan berakhir. Meski demikian, dikatakan Ping'an bahwa Huawei optimistis bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi mereka.

"Tidak masalah. Bisnis consumer kami terus tumbuh. Kami nyaris punya segalanya. Kami berupaya tidak bergantung lagi pada komponen AS," ujarnya.


Mengenai dampaknya pada akses ke Google Mobile Services (GMS), Ping'an mengatakan jika pembatasan dicabut, maka hal ini bagus untuk memberikan opsi layanan pada para pengguna perangkat Huawei. Mereka bisa memilih menggunakan GMS atau HMS.

Namun jika nantinya HMS jadi satu-satunya layanan yang ada di perangkat Huawei pun, Ping'an yakin bahwa ekosistem Huawei sudah siap untuk itu.

"Kami sudah persiapkan ekosistem ini. Tak bisa pakai Google, kami punya HMS. Jika suatu hari nanti GMS tersedia lagi untuk para konsumen, kami dengan senang hati menyambutnya," tutupnya.

Simak Video "Tak Bisa Pakai Layanan Google, Huawei Beri Penjelasan ke Konsumen"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)