Senin, 20 Mei 2019 10:55 WIB

Terkait Lisensi Android, Huawei Bakal 'Dianaktirikan' Google

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: Alexander Koerner/Getty Images Foto: Alexander Koerner/Getty Images
Jakarta - Setelah Huawei di-blacklist pemerintah AS minggu lalu, kini giliran Google yang akan membatasi penggunaan sistem operasi Android di smartphone buatan perusahaan China tersebut.

Dengan langkah tersebut, ponsel Huawei bisa kehilangan akses untuk update software dan keamanan yang dirilis langsung oleh Google untuk Android di masa depan. Smartphone Huawei yang akan dirilis juga bisa kehilangan akses ke aplikasi Google seperti YouTube, Gmail dan Play Store.

Akan tetapi, pengguna smartphone Huawei pada saat ini, yang perangkatnya sudah terinstal aplikasi-aplikasi Google, masih akan terus bisa menggunakan dan mendapatkan update aplikasi yang dirilis Google.




"Kami mematuhi aturan dan meninjau implikasinya," kata juru bicara Google seperti dikutip detikINET dari Reuters, Senin (20/5/2019).

"Untuk pengguna layanan kami, Google Play dan perlindungan keamanan dari Google Play Protect akan terus berfungsi di perangkat Huawei yang ada saat ini," sambungnya tanpa merinci lebih lanjut.

Huawei pada dasarnya tetap bisa mendapatkan akses sistem operasi Android, walaupun cuma yang tersedia lewat lisensi open source alias Android Open Source Project (AOSP). Android versi open source ini tersedia untuk siapa saja yang ingin menggunakannya.




Tapi Google tidak akan lagi secara langsung menyediakan akses, dukungan teknis, dan kolaborasi terkait aplikasi dan layanan miliknya ke Huawei, mengingat itu tidak tercakup dalam lisensi open source dan membutuhkan perjanjian komersial dengan Google.

Nah, lisensi komersial itulah yang kini hendak dicabut oleh Google dari tangan Huawei. Dengan kata lain, perangkat-perangkat Android punya Huawei harus siap bakal "dianaktirikan" Google.

Video: Masuk Daftar Hitam Trump, Google Hentikan Bisnis dengan Huawei

[Gambas:Video 20detik]



Buat Huawei, dampak dari hal ini mungkin tidak akan terlalu dirasakan di pasar China karena aplikasi milik Google memang diblokir di negeri Tirai Bambu tersebut. Tapi hal itu berpotensi memberi imbas besar buat pengguna smartphone Huawei di negara-negara Asia lainnya dan juga Eropa.




"Memiliki aplikasi tersebut adalah sesuatu yang penting bagi produsen smartphone untuk tetap kompetitif di kawasan seperti Eropa," kata Vice President of Research CCS Insight Geoff Blaber.

Langkah Google ini menyusul dua "serangan" yang diluncurkan pemerintah AS ke Huawei. Sebelumnya, perusahaan telekomunikasi AS dilarang untuk membeli komponen dari perusahaan yang mengancam keamanan nasional dan Huawei belakangan ini dituduh menjadi mata-mata pemerintah China.

Setelah itu, Huawei juga dimasukkan dalam daftar hitam perdagangan sehingga tidak lagi bisa membeli komponen telekomunikasi dari perusahaan AS tanpa seizin pemerintah AS.


(vim/krs)