Sabtu, 11 Mei 2019 09:45 WIB

Ponsel Gaib Redmi Note 7, Strategi atau Permintaan Tinggi?

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - Fenomena ponsel gaib masih terjadi. Perbincangan mengenai hal ini kembali menghangat di kalangan pengguna smartphone di Indonesia. Kali ini, cap "ponsel gaib" didapat Redmi Note 7.

Sejak dirilis Maret lalu, Redmi Note 7 sulit ditemui di pasaran. Jika pun ada harganya sudah melambung dari harga resminya. Untuk diketahui, harga Redmi Note 7 adalah Rp 1,999 juta (RAM/ROM 3GB+32GB) dan Rp 2,599 juta (RAM/ROM 4GB+64GB).




Kenyataan itu tak ayal memicu pertanyaan dan spekulasi. Minimnya ketersediaan stok di harga resmi, tapi produk masih bermunculan dengan banderol yang lebih tinggi, juga memunculkan dugaan liar. Selain itu, ada pula yang menduga Redmi Note 7 jadi ponsel gaib karena bagian dari strategi pemasaran.

Perwakilan Xiaomi Indonesia sendiri sudah memberikan keterangan mengenai kondisi tersebut. Menurutnya itu lebih dikarenakan banyaknya permintaan akan smartphone-nya tersebut.

"Sampai sekarang luar biasa, animonya besar, baik secara online maupun offline," ujarnya.

Xiaomi menyadari tingginya permintaan akan Redmi Note 7 membuat ketersediaan ponselnya itu menipis di pasaran. Vendor asal China itu pun berupaya meningkatkan ketersediaan unit.




Ditanya pendapatnya mengenai kejadian ini, pengamat gadget Lucky Sebastian mengatakan smartphone di segmen kelas menengah dan menengah ke bawah memang paling tinggi permintaannya.

"Gaib bisa terjadi memang karena permintaan tinggi, produksi tidak bisa mengikuti, atau memang sengaja dibuat sebagai hunger marketing, yang kesannya smartphone tersebut laku. Kalau melihat contoh seperti Redmi Note 7, saya rasa ini (masalahnya) ada di kapasitas produksi," komentar Lucky, berbincang dengan detikINET.

Pasalnya, di Indonesia Xiaomi tidak punya pabrik sendiri, melainkan melakukan perakitan melalui kerja sama dengan pabrik ponsel seperti Satnusa Persada, yang juga merakit smartphone brand lain.

"Jadi sepertinya ada batas kapasitas yang sulit di-push, apalagi menjelang Lebaran seperti ini, di mana demand smartphone tinggi, semua brand kejar-kejaran rilis smartphone baru," kata Lucky.




Kapasitas produksi pun tidak hanya bergantung di perakitan, tetapi juga pada pemasok hardware. Jadi brand harus mengalokasi berapa banyak hardware dibutuhkan, karena jika pemasoknya juga tidak siap, akan kekurangan.

Nah, ponsel dengan harga murah, menurut Lucky, juga punya masalah lain dalam distribusi. Untuk tetap bisa untung dan murah, harus memotong rantai distribusi, semua dikerjakan sendiri.

"Ini mudah kalau penjualan hanya online. Tapi kapasitas online di Indonesia kan juga sebenarnya tidak sebanyak jualan offline. Termasuk jangkauannya," terangnya.




Semakin panjang rantai, bisa semakin terdistribusi dan menjangkau banyak tempat. Namun setiap level membutuhkan keuntungan, sehingga akhirnya harga tidak bisa lagi murah.

Maka, menurutnya, jika brand di Indonesia masih mau melakukan proses produksi lewat pihak ketiga, harus ada lebih banyak pabrik seperti Satnusa Persada, atau mau tidak mau membuat pabrik sendiri.

"Vendor yang sudah bagus posisinya, dipercaya masyarakat, baguslah bangun pabrik atau investasi, itu kan dulu tujuan TKDN. Bangun kepercayaan brand dari level kualitas produksi hingga after sales. Makin lama masyarakat akan semakin pintar memilih. Ketika tahu benefitnya dari brand, mereka akan lebih loyal dan berani membayar lebih," ujarnya.


(rns/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com