Selasa, 02 Apr 2019 12:42 WIB

Kepongahan Bos BlackBerry yang Berujung Keruntuhan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Halaman 1 dari 2
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Kisah kejatuhan BlackBerry selalu menarik diceritakan kembali. Dulu begitu berjaya, kini sama sekali ponsel BlackBerry tidak ada lagi gaungnya. Jika ada salah satu faktor utama yang jadi penyebab, tentu ada kesalahan kepemimpinan di masa silam.

BlackBerry pernah berjaya dalam industri smartphone. Pada masa keemasannya di tahun 2008, perusahaan ini bernilai USD 84 miliar. Produk-produknya pun digemari banyak orang.

Saking jayanya, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie yang adalah mantan co CEO BlackBerry, perusahaan yang sebelumnya bernama Research in Motion (RIM), meremehkan kedatangan Apple iPhone yang diperkenalkan Steve Jobs di tahun 2007.

Walau ada beberapa hal positif seperti kemampuan browser yang lebih baik dari Blackberry, keduanya menilai iPhone seperti ponsel mainan. Baterainya dinilai lemah dan keyboard layar sentuh iPhone susah digunakan dibandingkan keyboard fisik di BlackBerry.

"Sebagus apapun iPhone, ia menghadirkan kesulitan bagi penggunanya. Cobalah mengetik di layar sentuh iPhone, itulah kesulitan yang nyata," kata Balsillie.

"Ini bukan ancaman bagi bisnis inti RIM. iPhone tidak aman, baterainya cepat habis dan keyboard digitalnya susah," ucap Larry Conlee, penasihat Lazaridis.

Jikalaupun iPhone laku, bos RIM berpendapat terbatas hanya untuk konsumen yang lebih memilih membuka YouTube dan layanan internet lain daripada efisiensi dan keamanan. Dua hal itu memang jagoan BlackBerry kala itu, keamanan tingkat tinggi.

Namun perlahan tapi pasti, iPhone mengubah industri smartphone. Layar sentuh responsif dan besar, browser dan pemutar musik yang bagus, membuatnya menjadi favorit. BlackBerry dinilai terlambat mengantisipasi tantangan yang dihadirkan iPhone. Demikian pula dengan Android.
Kepongahan Bos BlackBerry yang Berujung KeruntuhanMike Lazaridis. Foto: Getty Images

Membiarkan Perkembangan Android

Ponsel Android pertama, HTC Dream, rilis tahun 2008. Pada waktu itu, belum banyak yang menganggapnya sebagai pesaing berarti di jagat smartphone dunia, termasuk BlackBerry.

Pemimpin BlackBerry gagal melihat visi Google dan juga Apple bahwa ponsel tidak hanya semata alat komunikasi, namun akan menjadi pusat entertainment dan didukung aplikasi bagus.

"Tren di dunia mobile yang paling menarik adalah keyboard full qwerty," demikian salah satu kengototan Lazaridis yang menilai BlackBerry akan tetap lebih unggul dari iPhone maupun Android.

Kenyataan berkata lain. Pangsa pasar BlackBerry terus tergerus dan Android kemudian menjadi sistem operasi ponsel terpopuler di dunia.

Upaya BlackBerry menghadirkan handset layar sentuh dengan nama Storm berbuah kegagalan. Sebab, layar sentuhnya kurang responsif dan BlackBerry terkesan setengah setengah membuatnya karena masih fokus pada handset dengan keyboard fisik.

Telat Menghadirkan BlackBerry 10

BlackBerry akhirnya menyadari tidak akan dapat bertahan jika terus mengandalkan ponsel dengan OS lama. Akhirnya, mereka mengembangkan sistem operasi BlackBerry 10 untuk smartphone.

BlackBerry 10 yang berbasis QNX sebenarnya cukup bagus. OS ini dirancang bekerja tanpa kehadiran tombol fisik, cukup digeser-geser saja.

Awalnya, ponsel BlackBerry 10 direncanakan rilis pada tahun 2011, namun kemudian ditunda sampai tahun 2012. Masih ditunda lagi sampai akhirnya BlackBerry Z10 rilis awal Januari 2013.

Meski menghadirkan berbagai fitur baru, nyatanya ponsel BlackBerry 10 kurang laris di pasaran. BlackBerry Z10 kabarnya banyak yang menumpuk di gudang.

Banyak pihak menilai, jika saja ponsel BlackBerry 10 dirilis jauh-jauh hari, masih ada potensi bagi BlackBerry melawan dominasi Android dan iPhone.

Halaman Selanjutnya: Pernyataan Ngaco Thorsten Heins (fyk/fyk)