Minggu, 08 Jul 2018 18:26 WIB

Mantan Vendor Ponsel Raksasa Ini Makin Merana

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Logo HTC. Foto: Reuters Logo HTC. Foto: Reuters
Taipei - Menyandang predikat sebagai salah satu perusahaan paling inovatif versi Fast Company pada 2010 dan menerima penghargaan Device Manufacturer of the Year oleh GSM Association pada ajang MWC 2011 adalah segelintir prestasi yang diraih oleh HTC pada masa jayanya. Perusahaan Taiwan ini juga sempat duduk di posisi ketiga sebagai manufaktur ponsel terbesar pada 2011.

Sayangnya, kenangan hanya tinggal kenangan. HTC gagal meneruskan masa kegemilangannya di industri smartphone di tengah-tengah persaingan ketat antar sesama vendor seperti Samsung dan Apple. Padahal, HTC sempat menjadi vendor ponsel terbesar di Amerika Serikat di awal 2010an, mengalahkan dua nama besar tersebut.

Perusahaan yang berkantor pusat di New Taipei City belum lama ini mengumumkan bahwa penjualan mereka anjlok hampir 68% sepanjang Juni lalu. Angka tersebut merupakan yang terburuk dalam dua tahun terakhir.

Sepanjang bulan lalu, HTC membukukan penjualan sebesar 2,2 miliar dollar Taiwan, atau sekitar Rp 1 triliun. Pencapaian tersebut turun dibanding bulan sebelumnya yang mampu mencapai 2,45 miliar dollar Taiwan (Rp 1,1 triliun).


Jika dibandingkan dengan Juni 2017, selisihnya akan semakin jauh melebar. Pada saat itu, perusahaan yang didirikan pada 1997 silam tersebut mampu mencatatkan penjualan sebesar 6,9 miliar dollar Taiwan, atau saat ini setara dengan Rp 3,25 triliun.

"Pada segmen high-end, penjualn ponsel flagship mereka tahun ini berada di bawah ekspektasi sehingga mengurangi market share mereka," ujar analis Trendforce, sebuah firma riset, sebagaimana detikINET kutip dari Reuters, Minggu (8/7/2018).

"Untuk middle-end dan entry level, model-model terbaru HTC gagal membawa spesifikasi yang segar maupun performa yang menawan jika dibandingkan dengan harga yang dipatoknya," katanya melanjutkan.

Firma tersebut memperkirakan HTC akan lebih sedikit meluncurkan produk baru tahun ini. Lalu, sepanjang 2018 ini, mereka memprediksi produksi yang dilakukan oleh vendor tersebut tidak akan mencapai 2 juta unit.


Selain menurunnya penjualan, nilai saham dari perusahaan ini pun juga ikut anjlok hingga 30% sepanjang tahun ini. Hal tersebut merupakan kenyataan pahit yang harus diterima mantan penguasa 10% market share industri smartphone secara global ini.

Sebelumnya, HTC sudah mengumumkan rencananya untuk memangkas 1.500 pekerjaan dalam unit manufakturnya di Taiwan. Jumlah ini setara dengan seperempat dari 6.450 karyawan yang dipekerjakannya secara global per Juni 2018.

Proses pemutusan hubungan kerja dijadwalkan dapat selesai pada akhir September. Keputusan ini merupakan bagian dari rencana HTC untuk membawa bisnis smartphone dan virtual reality (VR) di bawah satu pimpinan dalam tiap kawasan.

Pemangkasan jumlah tenaga kerja juga sudah dilakukan oleh perusahaan tersebut pada tahun lalu setelah menjual tim divisi Pixel miliknya ke Google senilai USD 1,1 miliar, atau kini setara dengan Rp 15,7 triliun. Penjualan tersebut mampu memberikan dana segar kepada HTC sekaligus mengurangi sekitar 2.000 karyawan di dalamnya. (mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed