Selasa, 19 Jun 2018 08:13 WIB

Setelah Bayar Denda ke AS, ZTE Masih Kejar Rp 149 Triliun Lagi

Raden Fadli Sumawilaga - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Vendor ponsel asal China, ZTE tengah berupaya mencari pembiayaan senilai USD 10,7 miliar (Rp 149 triliun). Hal ini sejalan dengan permintaan regulator Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu syarat pemulihan bisnis mereka di negara tersebut.

ZTE terpaksa menangguhkan produksinya setelah larangan impor oleh AS. Diskusi yang melibatkan kedua pemerintahan tersebut berujung pada pemberian penangguhan yang dikeluarkan minggu lalu oleh otoritas AS. Namun, ZTE harus memenuhi tiga syarat utama, yakni mengganti seluruh dewan direksi sebanyak 14 orang, membayar denda USD 1 miliar dan menempatkan tambahan USD 400 juta sebagai dana jaminan.

Setelah melanjutkan perdagangan saham minggu ini, perusahaan menguraikan langkah pertama yang diambil untuk mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Departemen Perdagangan AS (DoC). Perusahaan mengajukan kredit senilai 30 miliar yuan (USD 4,7 miliar) dari Bank of China dan USD 6 miliar dari cabang Bank Pembangunan China, Shenzhen. Hal ini diketahui untuk menghindari defisit anggaran dan pengembangan perusahaan pasca denda beberapa waktu lalu.

Akibat sanksi keras dari Departemen Perdagangan AS, ZTE diperkirakan telah menelan kerugian hingga USD 2 miliar. Perusahaan harus membayar denda dalam waktu 60 hari setelah menyetujui penyelesaian sengketa (pada 8 Juni lalu) dan menyelesaikan perubahan manajemennya dalam 30 hari.

Dalam sebuah pernyataan resmi, ZTE memutuskan perubahan dewan direksi, dengan nominasi anggota baru dan penunjukan lima direktur non-independen, yakni Li Zixue, Li Buqing, Gu Junying, Zhu Weimin, dan Fang Rong seperti dilansir detikINET dari Business Standard, Selasa (19/6/2018).

Reuters mencatat lima anggota dewan direksi baru itu berasal dari perusahaan-perusahaan yang terkait dengan negara yang merupakan pemegang saham atau memiliki hubungan investasi dengan ZTE.

Tiga direktur eksekutif non-independen juga telah ditetapkan, yakni Cai Manli, Yuming Bao, dan Gordon NG. Ketiganya memiliki latar belakang hukum. Yuming Bao, misalnya, merupakan penasehat hukum untuk beberapa perusahaan multinasional termasuk Cisco dan News Corporation. (mag/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed