BERITA TERBARU
Selasa, 29 Mei 2018 20:06 WIB

Kala Ketenaran BlackBerry Picu Kericuhan di Indonesia

Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Mungkin masih banyak yang ingat, ponsel BlackBerry pernah lama menjadi primadona Indonesia. Berbagai model BlackBerry begitu digilai dan jadi simbol status, pernah pula bikin kericuhan.

BlackBerry mulai memikat warga Indonesia sekitar tahun 2006 dan mencapai puncak di 2008 sampai beberapa tahun setelahnya. Ia jadi smartphone terpopuler, para pemiliknya merasa bangga.

Di Indonesia, BlackBerry jadi anomali. Handset ini sebenarnya ditujukan buat pebisnis, namun di sini kala itu semua kalangan meminatinya. Dari ibu rumah tangga sampai anak-anak, terutama terpikat layanan BlackBerry Messenger.

Wajar saja, BBM waktu itu tak ada saingan. WhatsApp dan layanan sejenisnya tak begitu dikenal. Faktor itu, selain menenteng BlackBerry terlihat bergengsi, membuat BlackBerry jadi idaman. Artis-artis pun banyak menggunakannya.


"Soalnya pakai Blackberry bisa ketawa-ketawa sendiri, bisa menimbulkan teman baru. Tapi bisa juga menimbulkan masalah baru, soalnya orang di sebelah kita bisa kita cuekin," kata Luna Maya yang kala itu hobi BBM.

Foto: istimewa

Karena harganya mahal, banyak yang tak mampu membeli BlackBerry. Research in Motion, nama perusahaan BlackBerry di masa itu, menghadirkan solusi dengan kedatangan BlackBerry Gemini. Gemini yang dijual paling murah langsung menghebohkan Indonesia.

Gemini waktu itu harganya Rp 3 jutaan dan dianggap mengancam Nokia. Zaman itu, BlackBerry memang bersaing sengit dengan Nokia yang juga tengah jaya. Dan benar saja, Gemini jadi ponsel sejuta umat.

"Gemini bisa mempengaruhi pasar menengah ke bawah. Orang yang ingin membeli ponsel diharga Rp 3 jutaan akan melirik Gemini karena Gemini adalah BlackBerry. Hal ini harus mendapat perhatian dari Nokia jika ingin melindungi pangsa pasarnya," papar seorang pengamat kala itu.


Picu Kericuhan

Foto: istimewa

Popularitas BlackBerry belum kendor sampai tahun 2011 walau Android dan iPhone mulai mengancam. Bahkan kalau masih ingat, kedatangan model baru Bellagio atau Bold 9790 memicu kericuhan saat penjualan perdana di Pacific Place di akhir tahun tersebut.

Kehebohan terjadi karena Bellagio dijual separuh harga menjadi Rp 2,3 juta untuk seribu pembeli pertama. Tak ayal, begitu banyak orang yang ingin mendapatkannya. Sebagian jelas ingin menjualnya lagi dengan bayangan meraup untung tidak sedikit.

Tertibnya antrean di Pacific Place hanya sebentar, yang terjadi kemudian adalah chaos. Ribuan massa berdesak desakan tak terkendali sehingga polisi dan satpam yang menjaga kewalahan. Bahkan banyak yang pingsan.

"Ingat bapak ibu saudara menanti di rumah, keselamatan adalah yang paling utama," teriak petugas, demi menenangkan massa yang tidak sabar. Menurut Kompol Hando yang kala itu menjabat Kapolsek Kebayoran, korban sakit sudah sekitar 90 orang. Polisi pun tidak punya pilihan selain menutup loket penjualan Bellagio.


Peristiwa ini ramai diberitakan, bahkan sampai ke media media tenar di mancanegara. Menunjukkan masih tingginya ketenaran BlackBerry di Indonesia.

Sayang kemudian, BlackBerry tak mampu melawan serbuan pasukan ponsel Android. Hingga akhirnya masa kejayaan BlackBerry benar benar berakhir di Indonesia maupun dunia. Dominasi BlackBerry di Indonesia pun hanya tinggal cerita lama. (fyk/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed