Selasa, 17 Apr 2018 19:04 WIB

Vendor Ponsel China Ini Dilarang Pakai Prosesor Qualcomm

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi. Foto: GettyImages Ilustrasi. Foto: GettyImages
Jakarta - Akibat melanggar perjanjian, ZTE harus rela ponsel buatannya tak lagi bisa menggunakan chipset produksi Qualcomm.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat resmi melarang seluruh perusahaan asal Negeri Paman Sam untuk menjual komponen apapun kepada ZTE. Hal ini dikarenakan perusahaan telekomunikasi asal China itu diketahui melanggar sejumlah perjanjian dengan lembaga tersebut.

Salah satu pelanggaran yang dilakukan oleh ZTE adalah diketahuinya vendor ponsel tersebut dalam melakukan pengiriman sejumlah komponen teknologi seperti chip ke Iran dan Korea Utara. Selain itu, pihak ZTE pun tidak menunjukkan sikap yang tegas dalam mengatasi masalah tersebut.

ZTE sempat berjanji memecat empat pegawai senior dan menghukum 35 karyawan lain dengan mengurangi bonus atau menjatuhi skors. Nyatanya, perusahaan yang berkantor pusat di Shenzen tersebut hanya melakukan pemecatan empat pegawai senior, sedangkan 35 karyawan yang terlibat dalam pengiriman ilegal tersebut lepas dari hukuman.



"Bukannya menskors para staf, ZTE malah menghadiahi mereka. Perilaku seperti ini tidak dapat dibiarkan begitu saja," ujar Wilbur Ross, Secretary of Commerce.

Atas perbuatannya tersebut, perusahaan tersebut pun tidak dapat mengimpor berbagai keperluan untuk bisnisnya dari perusahaan asal Amerika Serikat, baik secara langsung atau melalui negara lain, selama tujuh tahun. Larangan ini pun akan mulai dijalankan segera.

Hal ini bisa sangat merugikan ZTE mengingat sejumlah perusahaan asal Negeri Paman Sam memasok sekitar 25% - 30% komponen yang mereka butuhkan dalam merancang smartphone maupun jaringan telekomunikasi. Dengan begitu, maka ponsel-ponsel pabrikan ZTE takkan menikmati chipset buatan Qualcomm maupun pengeras suara dari Dolby lagi dalam tujuh tahun ke depan.



Selain itu, perusahaan yang berdiri pada 1985 tersebut juga akan membayar denda sebesar USD 890 juta (Rp 12,2 triliun), dengan potensi tambahan penalti senilai USD 300 juta (Rp 4,1 triliun), sebagaimana detikINET kutip dari Reuters, Selasa (17/4/2018).

Hukuman yang menimpa ZTE seakan memperpanjang prahara antara pemerintah Amerika Serikat dengan perusahaan tersebut. Sebelumnya, Federal Communications Commission (FCC) tengah mempertimbangkan untuk mengajukan larangan bagi operator AS untuk menggunakan perangkat yang digunakan oleh ZTE pada akhir Maret lalu. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed