Brand Director Vivo Mobile Indonesia Peter Wang mengatakan, bagi sebagian vendor, memenuhi aturan TKDN cukup sulit. Alhasil, mereka harus menyerah dan tidak lagi memasarkan perangkatnya di Indonesia.
Berbeda dengan yang dirasakan Vivo. Mereka mengklaim cukup mudah dalam memenuhi aturan dari pemerintah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Vivo mengklaim sudah memenuhi 32% TKDN. Tapi pihaknya tidak mau berhenti, mereka akan terus meningkatkan jadi 40% di tahun depan.
Sejumlah upaya telah dipersiapkan untuk mewujudkan target tersebut. Dimulai dari memperbesar kapasitas produksi pabriknya yang berlokasi di Cikupa, Banten.
"Akhir tahun nanti kami akan membuka pabrik kedua. Letaknya di bagian belakang pabrik pertama. Adanya pabrik baru ini akan meningkatkan kapasitas produksi, dari sebelumnya 500 ribu unit berbulannya menjadi 1 juta unit perbulan," jelas Peter
"Rencana kami ponsel untuk kawasan Asia Tenggara tidak perlu diimpor dari China, tapi dari Indonesia saja," imbuh pria berkacamata itu.
Setelah pabrik, Vivo akan membuka pusat riset dan pengembangan di Indonesia. Ini menjadi pusat riset kedelapan yang dibangun perusahaan yang bermarkas di China itu.
Lokasinya akan berada di Jakarta, tapi belum diketahui kapan mulai digarap. Dengan dua langkah tadi, Peter yakin Vivo dapat mewujudkan keinginan TKDN 40% di perangkat 4G besutannya. (rns/rns)