"Indonesia itu pasarnya besar, jadi tidak heran banyak vendor yang tertarik masuk pasar ini. Kami sebagai merel lokal tidak takut dengan gempuran merek-merek luar. Justru kami senang banyak saingan, membuat kami terpacu menghadirkan inovasi-inovasi apa lagi dalam kompetisi ini," kata General Manager Mobile Phone Division Polytron Usun Pringgodigdo, usai peluncuran Prime 7S di Hotel Indonesia Kempinski, Selasa (1/11/2016).
Dengan banderol Rp 3.799.000, Prime 7S memang bersaing dengan ponsel milik Oppo, Asus dan merek lain yang spesifikasinya hampir mirip. Untuk memikat pengguna, Polytron pun punya strategi khusus, antara lain dengan membenamkan OS FIRA sehingga ponselnya benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pengguna Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fitur andalan OS FIRA antara lain FIRA TV yang menyajikan layanan video streaming dari berbagai channel. Ada pula fitur yang memudahkan pengguna membeli token listrik, pulsa elektrik, dan game voucher.
"Kami membangun research and development untuk membuat smartphone yang cocok dan sesuai kebtuhan pengguna kita. Kebanyakan merek lain kan bikin ponsel yang kebutuhannya global. Akan waste sekali kalau beli ponsel mahal, tapi fiturnya tidak bisa dipakai. Kami membuat ponsel yang semua fiturnya memang bisa dipakai pengguna Indonesia," kata Marketing Director Polytron Tekno Wibowo.
Ditambahkannya, keunggulan ini membuat posisi Polytron sebagai merek lokal menjadi kuat. Selain berupaya memenuhi kebutuhan pengguna, Polytron juga pede bisa memikat konsumen karena layanan purna jualnya yang sudah tersebar di hampir seluruh Indonesia.
Saat ini Polytron punya 68 service center yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari kota-kota besar hingga ke Aceh, Papua, Sorong dan yang terbaru di Pasuruan.
"Positioning kami sebagai produk yang bisa memenuhi kebutuhan pengguna lokal. Kami juga terus berinovasi melalui R&D center kami, menawarkan produk yang benar-benar dibutuhkan dari segi fitur, konten dan layanan purna jual yang mendukung," pungkasnya. (rns/rou)