Galaxy Note 7 boleh dibilang adalah ujian terberat bagi Samsung. Pada 2 September 2016, perusahaan asal Korea Selatan itu menghentikan penjualan untuk sementara dan menarik kembali phablet flagship-nya karena sejumlah pengguna melaporkan perangkatnya terbakar.
Setelah memastikan ponselnya aman, pada 19 September 2016, Samsung pun kembali menjual Galaxy Note 7 dengan produk pengganti yang diklaim aman. Malangnya, produk pengganti itu masih menimbulkan masalah yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis menyarankan para petinggi Samsung agar fokus membangun kembali kepercayaan konsumen, dan bersaing dengan produsen smartphone lainnya.
"Sekarang saatnya bagi manajemen memikirkan opsi menyerah pada Galaxy Note 7. Mereka telah kehilangan tiga bulan pertama dalam penjualan, jendela kesempatan yang penting, dan Galaxy Note 7 menghilangkan kepercayaan dari konsumen," ujar seorang analis bernama Macquarie dikutip detikINET dari Business Insider, Rabu (12/10/2016).
Tak hanya Macquarie, analis lainnya, Managing Director of Charter Equity Research Edward Snyder juga menambahkan bahwa kejadian tersebut membunuh brand Note 7. "Pada saat mereka memperbaiki masalah ini mereka harus melalui sertifikasi ulang dan kualifikasi ulang dan pada saat itu terjadi, mereka sudah menjumpai momen peluncuran Galaxy S8," ujarnya.
Mendengar desakan dari berbagai pihak itu, Samsung akhirnya mematikan Note 7 dengan menghentikan proses produksinya secara permanen. Kini saatnya mengalihkan perhatian ke Galaxy S8. (mag/rns)