Dijelaskan Head of Product Marketing Ubay Bayanudin, teknologi Quantum Dot ditemukan pada 1985 oleh Louis E. Brus dari Colombia University. Menurut Louis, teknologi temuannya dapat menjadi solusi keterbatasan OLED yang telah ditemukan tahun 1950.
Ada tiga hal kenapa Quantum Dot lebih unggul ketimbang OLED. Pertama, materialnya. Teknologi Quantum Dot mengusung bahan inorganic sehingga sifatnya permanen dan lebih kuat terhadapΒ oksidasi. Sementara OLED menggunakan material organic, sehingga memiliki keterbatasan dan lemah terhadap oksidasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena sifatnya stabil, Quantum Dot diklaim bebas dari masalah tersebut. Sedangkan OLED yang tidak stabil lebih rentan terkena burn-in effects.
"OLED bagus untuk smartphone. Karena digunakan (statis) tidak dalam waktu lama, jadi efek burn-in tidak terjadi," kata Ubay saat acara Samsung All-Star yang berlangsung di Blitz CGV, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Terakhir adalah kualitas gambarnya. OLED dinilai kurang bisa mengatasi korelasi antara warna dan kecerahan. Sementara Quantum Dot memiliki rentang warna yang luas dengan tingkat kecerahan yang tinggi.
"Quantum Dot menyempurnakan televisi LCD, LED dan OLED," klaim Ubay.
Agar kualitas makin mumpuni, Samsung melengkapi dengan teknologi High Dynamic Range (HDR) sampai dengan 1.000 nit. Sehingga menampilkan kontras antara terang dan gambar gelap dapat terlihat lebih detail dan baik.
Teknologi Quantum Dot telah disematkan di jajaran televisi Samsung SUHD terbaru. Ukurannya mulai dari 49 - 88 inch, baik yang layar flat maupun curve. (afr/rns)