''Uniknya, di tengah situasi seperti ini segmen UHD tidak terganggu. Bahkan kontribusi UHD Samsung lebih tinggi dari market. Kita tidak bisa bilang ke depannya akan seperti ini terus. Tapi kalau melihat pertumbuhannya dari tahun-tahun lalu segmen TV UHD ini terus berkembang,'' kata Product Marketing TV Senior Manager Samsung Electronics Indonesia Ubay Bayanudin di peluncuran SUHD TV JS2700 DI MidTown, SCBD, Selasa (8/9/2015).
Samsung mengklaim kepemimpinannya di pasar UHD sudah terbukti sejak memperkenalkannya di akhir 2013. Di Indonesia, pasar UHD tumbuh 68 kali sejak 2013 sampai Juli 2015 menjadi 12%. Produk TV UHD Samsung sendiri menempati porsi 16%, berkontribusi lebih besar dari pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada banyak faktor yang mempengaruhi harga. Apakah karena dolar naik, atau penjualan produknya meledak, itu semua kita akan selalu balance dengan berbagai faktor," sebutnya.
Ditambahkan Jo Semidang, Corporate Marketing Director Samsung Electronics Indonesia, kecenderungan orang Indonesia adalah selalu ingin mencicipi teknologi terbaru, termasuk untuk urusan membeli TV.
"Behaviour-nya orang 5-7 tahun sekali beli TV. Triggernya adalah TV lama sudah tidak bagus atau ketika pindah rumah misalnya mereka ingin TV baru. Nah, ketika beli yang baru ini mereka akan beralih ke TV dengan teknologi baru," ujarnya.
Joe mengungkapkan, Samsung juga turut andil membuat orang mengikuti tren TV baru. Contohnya adalah ketika dulu orang menggunakan TV tabung, tidak ada yang terpikir untuk berganti ke TV yang lebih tipis karena pada saat itu belum ada yang membuat.
"Ketika Samsung buat, jadi mengikuti standar baru. Soal standar definition misalnya, ketika kita bikin ada standar definition ada high definition, orang jadi tahu. Mereka akan ngikut. Jadi kebutuhan itu sebenarnya kita yang men-drive dan Samsung selalu menaikkan standar produknya," simpulnya.
(rns/ash)