Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Wawancara Ekslusif Bos Samsung
Diancam Dibunuh Saat Memerangi Ponsel BM
Wawancara Ekslusif Bos Samsung

Diancam Dibunuh Saat Memerangi Ponsel BM


Adi Fida Rahman - detikInet

Jakarta -

Rasa cinta yang begitu dalam kerap membuat seseorang mau mengorbankan apapun. Begitu pula yang terjadi pada Lee Kang Hyun. Ia mati-matian membenahi bisnis ponsel Indonesia yang dinilainya carut marut. Namun hal ini butuh pengorbanan sampai diteror ancaman pembunuhan karena telalu vokal.

Sejak kedatangannya 27 tahun silam, Lee sudah melihat Indonesia memiliki potensi yang begitu besar. Sayang, banyak hal yang menghambat kemajuan. Dalam hatinya mulai tersulut keinginan untuk ikut serta mengubah kondisi industri ponsel Tanah Air. Bahkan saat itu, terbersit di kepala Lee untuk mengajak 'pemberontakan'.

"Negara ini begitu potensial. Saya sempat ingin mengajak pemberontakan agar Indonesia berubah. Tapi setelah saya kerja di sini, memang culture-nya berbeda, entah itu kantor pemerintahan maupun swasta," ujarnya saat berbincang dengan detikINET di kantornya.
Β 
Menurut Lee, di negara maju seperti Eropa dan Amerika, semua peraturan sudah jelas hitam di atas putih. Sementara di Indonesia, semuanya serba tergantung. Kala itu, suami dari wanita asal Indonesia bernama Yuliani ini banyak peraturan perdagangan, perindustrian, bea cukai hingga pajak yang tak beres.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat kondisi tersebut, ia merasa seperti mendapatkan tempat untuk ikut melakukan perubahan. "Saya mempelajari semuanya dan mengajukan perubahan pada sistem yang telah diterapkan untuk mendorong ekspor Indonesia. Tiap hari saya kirim proposalnya ke kantor-kantor pemerintah, mulai Deperindag (kini bernama Kementerian Perdagangan), pajak, keuangan dan lain-lain," kenang Lee.

Karena kegigihannya itu, sosok Lee makin dikenal berbagai kalangan. "Mungkin dari satpam sampai menteri semua tahu ini ada orang Korea yang gila," kelakarnya sembari tertawa.

Perjuangan Lee sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Pemerintah mulai mendengarkan semua masukannya, banyak peraturan, terutama terkait ekspor impor mengalami perubahan. Ia bahkan kerap dicari pemerintah untuk diminta saran dan masukan.

Diancam Dibunuh
Sosok Lee memang cukup vokal menyuarakan pendapatnya. Namun karena hal tersebut ia sempat menerima ancaman akan dibunuh bila terus berulah. Tapi mendapat ancaman tersebut, tak membuat Lee gentar. Ia malah terus berjuang demi kemajuan Indonesia.



Pria kelahiran Seoul ini bercerita kala itu tengah memperjuangkan ponsel yang masuk secara ilegal. Harga ponsel tergolong tinggi waktu itu. Pemerintah sendiri tidak menerapkan bea masuk, hanya mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%. Meski demikian, nilai 10% dirasa cukup tinggi. Akhirnya banyak yang mengambil jalur belakang (black market).

"Pemerintah jadi tidak menerima pajak. Padahal banyak ponsel yang dijual di pasaran," ujarnya.

Kondisi kian memburuk saat pemerintah mendadak menerapkan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 20% pada 2002. Aturan tersebut, kata Lee, makin meningkatkan jumlah ponsel ilegal di tanah air.

"Saya jadi tidak bisa jualan ponsel yang masuk resmi. Di pasaran ada produk Samsung yang masuk secara ilegal dan dijual lebih murah. Produk Samsung yang masuk secara resmi jadu susah bersaing di pasaran," terang pria berkacamata ini.

Akhirnya ia mulai berteriak ke pemerintah untuk menghapuskan PPnBN dan berjuang memberantas black market. Hampir setiap hari ia muncul di koran nasional. Musuh pun berdatangan, hingga datanglah ancaman akan dibunuh bila terus beraksi.

"Saya dimusuhi banyak orang, karena banyak barang diimpor secara ilegal. Waktu itu pintu impor dibekukan baik di pelabuhan maupun bandara. Akhirnya saya menerima berbagai ancaman, termasuk akan dibunuh bila tidak diam," ujarnya

Pada awalnya ia tidak ambil pusing dengan berbagai ancaman tersebut. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi aksinya tersebut setelah melihat nasib para penjual ponsel dan eletronik. "Mereka kerap didatangi oleh pihak berwajib dan berkata ini produk ilegal kan? Lalu mereka minta uang. Akhirnya saya memutuskan untuk diam," ujar ayah 3 anak ini.

Tapi sejak saat itu, pasar black market kian tergerus. Tapi kata Lee hal tersebut tidak akan hilang selamanya. Namun ia yakin, ke depannya akan semakin baik dan membawa Indonesia lebih maju.

(ash/ash)







Hide Ads