Menurut Sofran Irchamni, Managing Director BlackBerry Indonesiaβ, semakin kencang prosesor yang ada di smartphone kita, bisa saja semakin mempermudah upaya hacker untuk mengeksploitasinya.
Salah satunya terletak pada jumlah core yang semakin banyak. Logikanya adalah semakin banyak core milik sebuah ponsel, maka perangakat genggam itu mampu memproses perintah yang lebih rumit.
"Aplikasi yang bisa dibikin oleh hacker jadi semakin rumit. Kecepatan perangkat yang mereka tunggangi untuk memproses password pun jadi semakin tinggi," ujarnya dalam pertemuan dengan media di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (28/5/2015).
Bayangkan jika ponsel tersebut terhubung dengan server dan tersuplai dengan data-data penting sebuah perusahaan. Peretas yang berhasil menjebol keamanannya juga akan punya kesempatan untuk mengambil data tersebut.
"βBuat perusahaan yang mengusung BYOD, tentu ini sangat berbahaya," lanjut pria lulusan Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
BYOD alias bring your own device tengah jadi tren. Perusahaan sekarang banyak yang mengizinkan pegawainya menggunakan perangkat milik sendiri untuk menunjang pekerjaan.
Di satu sisi, kebijakan BYOD ini mengurangi cost perusahaan dalam hal penyediaan perangkat. Namun di sisi lain, membahayakan nasib perusahaan. βApalagi jika perangkat itu hilang atau tercuri, data perusahaan yang ada di dalamnya bisa βdisalahgunakan.
"Menurut survei, 68% percaya bahwa titik paling lemah dalam sebuah keamanan enterprise ada di mobile device. Itu survei global, di Indonesia lebih parah lagi. Banyak CIO perusahaan yang saya wawancarai, ternyata kurang memprioritaskan keamanan di ponsel. Makanya gampang dihack," sesal Sofran.
BlackBerry sendiri baru saja memperkenalkan layanan Blackberry Enterprise Service (BES) 12 yang dapat membantu pengamanan gadget di kalangan enterprise. Melalui solusi tersebut, perusahaan bisa mengamankan data-data sensitif yang ada dalam perangkat genggam karyawannya.
Salah satu cara kerja BES ini adalah dengan membuat dua unit kontainer di dalam satu perangkat. Satu kontainer ditujukan untuk penggunakan pribadi pemilik gadget, satu kontainer lainnya dipakai sebagai wadah data-data sensitif milik perusahaan.
Dengan demikian, katakanlah seorang peretas berhasil memasukkan ransomware ke dalam gadget milik karyawan, maka program jahat itu hanya akan menyandera kontainer pribadi pengguna.
Kontainer kedua yang berisi data-data perusahaan tidak akan dapat diutak-atik karena dikendalikan oleh admin khusus. Aplikasi-aplikasi hingga isinya pun hanya bisa diubah oleh admin itu.
(Achmad Rouzni Noor II/Anggoro Suryo Jati)