Minggu, 25 Jan 2015 17:20 WIB

Komunitas Nexus Indonesia

Meluruskan Stigma Nexus itu Ponsel China

- detikInet
Edwin Ferdian (lif/detikINET) Edwin Ferdian (lif/detikINET)
Jakarta - Nexus di Indonesia baru belakangan dikenal oleh kebanyakan. Dahulu, smartphone milik Google ini sering dianggap sebagai ponsel China, karena namanya belum terlalu tenar.

Berangkat dari keinginan memasyaratkan Nexus, Edwin Ferdian dan teman-temannya membentuk Google Nexus Community Indonesia (GNCI).

Edwin yang didaulat menjadi Ketua GNCI mendirikan komunitas ini pada tiga tahun yang lalu melalui jejaring sosial Google+.

"Tujuan dari mendirikan komunitas ini sebenarnya tak lain adalah sebagai wadah berkumpulnya orang-orang pengguna perangkat Nexus," papar Edwin ketika dijumpai detikINET di acara GNCI Gathering di Sky Dinning, Plaza Semanggi, Jakarta, Minggu (25/1/2015).

Tak hanya itu saja, Edwin dan kawan-kawan sebenarnya juga punya misi yang serius, yakni memasyarakatkan perangkat Nexus. "Mungkin sekarang sebagian konsumen sedikit-sedikit tahu apa itu Nexus. Cuma kalau dulu itu..aduuh kurang banget," papar Edwin.

Pengalaman tersebut ia dan teman-temannya rasakan tatkala mengunjungi pusat penjualan ponsel. Banyak yang mengira jika ponsel Nexus yang notabene milik Google itu tak lain ponsel asal Tiongkok.

"Dulu itu kan ponsel Tiongkok masih dianggap sebelah mata, nah itu lah yang terjadi pada Nexus," jelasnya.

Pun tiap lini seri Nexus punya spesifikasi yang mumpuni pada jamannya, perangkat tersebut tak heran tidak dianggap istimewa oleh sebagian orang awam. Ini tak lain karena, lanjut Edwin, kurangnya brand awareness dari tiap pabrikan yang memproduksi perangkat Nexus.

Sebagai contoh, Edwin membandingkan dua ponsel garapan vendor yang sama, yakni LG G2 dengan Nexus 5. "Baik LG G2 dan Nexus 5 punya spesifikasi yang kurang lebih sama. Cuma, LG G2 lebih dianggap sebagai flagship ketimbang Nexus," tuturnya.

Maka dari itu, melalui komunitasnya ia ingin agar pengguna gadget aware kalau ada perangkat yang affordable namun bisa disandingkan dengan ponsel-ponsel kelas mewah. Ia dan teman-temannya kerap membagikan review perangkat Nexus. Tentu, reviewnya dipandang objektif.

"Tentu kami akan bilang kelebihan dan kekurangannya, biar pembaca tinggal menganggap tulisan itu sebagai promosi," ucapnya.

Usahanya pun terbilang cukup membuahkan hasil. Beberapa konsumen kini telah melirik ponsel yang dulu dianggap sebagai pocin.

Kini tiga tahun sudah komunitas itu berjalan. Kian hari jumlah anggota yang bergabung di Google+ GNCI kian bertambah. Bahkan, komunitas ini sudah mendapat dukungan resmi dari Google Indonesia sendiri.

"Alhamdulillah Google Indonesia sudah mau support GNCI. Beberapa waktu yang lalu waktu event Photosphere Walk, kami mendapat sokongan dana dari Goolge untuk pelaksanaannya," tambahnya.

Ke depannya, lanjuy Edwin, Google bersedia untuk mendukung kegiatan gathering skala nasional yang rencananya akan digelar tahun 2015 ini.

(tyo/tyo)