Beberapa faktor menjadi alasan kegagalan itu. Mungkin karena barangnya benar-benar baru sehingga terasa asing, marketing kurang sukses atau memang kegunaannya masih diragukan.
Jadi, apa saja gadget yang dinilai gagal berkibar di tahun ini? Simak beberapa di antaranya berikut ini yang dihimpun dari berbagai sumber.
1. Amazon Fire Phone
|
|
Fire Phone coba bikin diferensiasi. Di sekitar layar terdapat empat unit kamera menghadap depan. Empat kamera ini berfungsi membuat perspektif dinamis hingga melacak kepala pengguna. Misalnya ketika membuka fitur Maps dan mencari sebuah restoran, perspektif peta digital berubah setiap kali ponsel dimiringkan.
Nyatanya Fire Phone tak laku karena susah digunakan. Hampir tak ada review yang bagus. Mayoritas memberikan rekomendasi satu bintang yang artinya, ponsel ini tidak layak dibeli. Para pengguna yang terlanjur membeli juga banyak yang beralih menggunakan ponsel lain.
Saking nggak laku-laku dijual, raksasa e-commerce itu bahkan rela banting harga Fire Phone dari sekitar Rp 7-8 jutaan jadi 99 sen dolar atau Rp 10 ribuan.
Kebijakan potong harga jadi 99 sen ini hanya berlaku bagi pengguna yang tetap mau mengambil paket bundling ekslusif dengan operator ATβ&T dengan kontrak dua tahun.
Padahal sebelumnya, dengan sistem kontrak yang sama, Fire Phone versi 32 GB dijual dengan harga USD β199 dan yang versi 64 GB dibanderol USD 299. Sementara untuk paket tanpa kontrak, yang 32 GB dihargai USD 649 dan 64 GB seharga USD 749.
2. Google Glass
|
|
Menurut laporan, banyak developer dan pengguna awal Glass sudah mulai kehilangan minat untuk mengetes produk yang dibanderol USD 1.500 tersebut. Walaupun Google secara tegas mendorong Glass tetap hadir di pasaran.
Bukti bahwa Google Glass kehilangan magisnya adalah 9 dari 16 developer yang mengembangkan aplikasi di kacamata pintar ini berhenti mengerjakan proyek tersebut.
Dan sampai sekarang, Google Glass belum juga dikomersialkan secara luas. Meski begitu, Google tetap berusaha meyakinkan bahwa mereka masih berkomitmen mengembangkan gadget jenis baru itu.
3. Jam Tangan Pintar
|
|
Ya, tampaknya masih jarang orang yang memakai jam pintar dan menggunakannya tiap hari. Kalaupun ada masih sebatas untuk gaya-gayaan dan belum dioptimalkan fungsi sesungguhnya.
Belum populernya jam pintar mungkin terkait beberapa faktor. Edukasi pasar yang belum maksimal, produsen yang masih coba-coba atau mungkin terkait dengan harga yang masih cukup mahal.
Tapi barangkali memang saat ini baru tahap awal pengembangan jam pintar. Tahun depan bisa jadi perangkat ini akan melesat dan diminati banyak kalangan. Kita tunggu saja.
4. Swing Copters
|
|
Maka ketika sekitar pertengahan tahun ini Nguyen merilis game baru bernama Swing Copters, harapan tinggi pun dibebankan. Swing Copters yang punya formula sama dengan Flappy Bird diprediksi akan terbang tinggi.
Tapi kenyataan berkata lain. Sempat populer pada awalnya, Swing Copters kini hampir tak terdengar lagi gaungnya. Ia juga tidak sampai melesat ke posisi top di toko aplikasi seperti App Store atau Play Store.
Mungkin karena Swing Copters susah sekali dimainkan. Atau bisa saja pengguna sudah mulai bosan dengan game semacam ini.
(fyk/ash)