Soal stigma negatif ponsel besutan China ini di pasar lokal, diakui sendiri oleh Huawei. Mereka sadar selama ini, dianggap kurang didengar namanya di kancah pasar smartphone.
βSebetulnya tidak hanya di Indonesia, hampir di seluruh dunia selalu berpikir yang sama mengenai ponsel dari China,β tukas Managing Director Huawei Device For Southern Pacifik region Leo Wang saat ditemui media asal Indonesia di Huawei Headquarter, Shenzhen, China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi selama ini Huawei dikenal sebagai penyedia jaringan telekomunikasi besar. Sehingga tentu saja mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan dengan para kompetitornya.
βKami harus memberikan kepercayaan bahwa kami mempunyai strategi bisnis yang bagus. Di mana kami akan mulai mengembangkan mulai dari chipset hingga display,β sebutnya.
Dari sisi peranti lunak pun demikian, Huawei melakukan pengembangan dalam memberikan antarmuka yang intuitif bagi konsumen. Dan dia menyebutnya sebagai best in class software.
Soal fokus bisnis pun Huawei tak melulu ingin bersaing di segmen di pasar papan atas. Karena mereka punya line up dari bawah hingga menengah ke atas yang dikelompok berdasarkan serinya. Mulai seri Y untuk kelas paling bawah, G series, P series dan D series yang paling tinggi kelasnya.
βHuawei tahun lalu berhasil menjual 32 juta smartphone. Target kami tahun ini bisa menjual 60 juta unit,β sebutnya.
Di Indonesia, untuk lebih mendekatkan diri Huawei dengan pengguna, vendor ini telah melakukan branding indoor di 5 kota besar yang dimulai dari Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang dan Medan.
Tahun ini, Huawei juga baru saja meluncurkan series Ascend P2 di Mobile World Congress 2013, di Barcelona. Menyusul phablet Ascend Mate dan Ascend D1.
βPaling baru kita akan umumkan di bulan Juni nanti. Bukan phablet tapi smartphone high end,β kata Leo memberikan sedikit bocoran.
(tyo/fyk)