Demikian menurut Narenda Wicaksono, Developer Marketing Manager Nokia Indonesia dalam paparannya di acara pertemuan Surabaya Web Community. Menurut Narenda, para mobile developer bisa menggali berbagai macam potensi lokal untuk kemudian dibuatkan aplikasi mobile-nya.
Selain itu, dikutip detikINET dari keterangan tertulis, Senin (4/4/2011), para mobile developer juga diimbau jangan terpaku pada platform, tetapi juga harus berpikir bagaimana produk aplikasinya bisa menghasilkan uang.Β Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aplikasi pengingat jadwal shalat yang ia buat misalnya. Banyak orang berharap, ada aplikasi pengingat jadwal shalat dalam perangkat mobile yang juga bisa menyesuaikan lokasi keberadaan penggunanya. Akhirnya, dari kebutuhan itu, Masykur membuat aplikasi mobile-nya.
Hampir sama dengan Masykur, developer lain -- Zainal Abidin -- membuat aplikasi jejaring sosial berbasis mobile untuk lokasi tempat kuliner berdasarkan faktor kebutuhan. Dengan aplikasinya tersebut, ia berharap orang akan semakin mudah menemukan tempat kuliner yang tepat melalui perangkat mobile.
Sementara Bernardus Sumartok, praktisi media digital, lebih menyoroti tentang bagaimana sebaiknya tata letak serta tampilan aplikasi mobile seharusnya dibuat. Menurutnya, aplikasi yang baik adalah aplikasi yang tidak menyulitkan penggunanya dan bekerja sesuai fungsinya.
Β Β Β
Pertemuan yang dihadiri para pemerhati dan pengembang mobile dari Yogyakarta, Madura, Surabaya dan sekitarnya itu diakhiri dengan workshop QT Smartphone.
Workshop yang dipandu Erick Kurniawan, Nokia Indonesia Community Enthusiasts Lead tersebut dimaksudkan agar para mobile developer dapat langsung berpraktek mengembangkan aplikasi mobile dengan software QT.
(ash/rns)