Penundaan layanan dikonfirmasikan Head of Marketing Product & PR Department PT MNC Sky Vision, Asri Winnie Sularto. Padahal Indovision sebelumnya sempat bilang bahwa HDTV sudah bisa komersial di semester kedua 2010 ini.
"Iya, agak molor sedikit. Ada pending sedikit dari sisi development. Tapi sekarang sudah jalan lagi," jelas Winnie ketika dihubungi detikINET, Selasa (24/8/2010). "Tahun depan akan kami luncurkan, definitely 2011," ia menegaskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika berbicara tentang siaran HDTV, operator TV berbayar yang pertama kali mengumumkan rencana penayangannya memang hanya Indovision. Namun pada perjalanannya, Indovision disalip oleh First Media yang akhirnya hadir lebih dulu dengan siaran HDTV.
First Media telah merilis tayangan HDTV secara terbatas kepada 5.000 pelanggan prioritasnya. Para pelanggan VVIP itu dikenakan tambahan biaya berlangganan Rp 100 ribu untuk menyewa dekoder ekstra untuk menikmati siaran olahraga ESPN dan film unggulan HBO dalam kualitas high definition.
Menurut Hengkie Liwanto, Presiden Direktur First Media, untuk menikmati siaran HDTV dengan bandwidth 12 Mbps itu diperlukan dekoder tambahan atau set top box khusus. Maka digandenglah vendor ABD dari Polandia untuk mendatangkannya.
Sedangkan pelanggan Indovision yang akan menerima siaran tersebut dari satelit Indostar II akan menggunakan perangkat decoder set top box HDTV yang diproduksi oleh pabrik Samsung di kawasan industri Cikarang, Jababeka.
"Siaran HDTV di perangkat terminal pelanggan hanya perlu decoder development saja karena sistemnya sudah kompatibel," jelas Direktur Utama MNC Sky Vision Rudy Tanoesudibjo waktu itu.
Indovision yang menayangkan lebih dari 120 saluran televisi siaran berbayar, telah memiliki sekitar 750 ribu pelanggan di Tanah Air. Sedangkan First Media jika digabung dengan pelanggan internet kabel jumlahnya berkisar 300 ribu pelanggan rumahan.
(rou/ash)