Menurut General Manager PT CSL Indonesia, Edmundus Leonard, investasi pendirian service centre bisa menghabiskan biaya ratusan juta rupiah. Tak hanya itu biaya operasionalnya tiap bulan juga cukup besar. Ini yang dihindari oleh banyak pelaku bisnis ponsel Cina di Indonesia.
"Biaya operasionalnya saja bisa mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta per hari. Untuk buat satu service center itu sampai ratusan juta," ujarnya kepada detikINET, Selasa (9/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya bukan berarti mereka tidak mau membuat service center. Tapi mereka memanfaatkan pihak ketiga untuk mengelolanya. Karena lebih murah," tukasnya.
Edmundus menambahkan, sebagian besar pelaku bisnis ponsel Cina mengambil strategi pasar hit and run. Pelaku bisnis yang seperti ini diyakini oleh Leo, demikian pria ini akrab dipanggil, tidak akan langgeng.
"Mereka tidak mau berinvestasi besar karena visinya hanya jangka pendek. Karena mereka hanya melihat dari sisi profit semata. Kalau masih menguntungkan dan harganya masuk mereka tetap berjualan. Jika tidak, mereka banting setir,"ungkapnya.
Hal ini wajar saja, pasalnya para pelaku bisnis ponsel Cina ini sangat sedikit yang dasarnya benar-benar pemain ponsel. Kebanyakan justru di luar bisnis ponsel.
"Kebanyakan bukan orang ponsel. Mereka murni bisnis. Melihat ada peluang mereka main. Sudah tidak untung mereka tinggalkan atau buat merek baru lagi," tandas Leo.
(afz/faw)