Dikatakan Gregory Wade, Regional Vice President Asia Pasifik RIM, hal tersebut memiliki peluang bisnis potensial. Terlebih pengguna BlackBerry di Indonesia dianggapnya ingin selalu mencoba berbagai aplikasi baru.
"Ini juga menjadi sebuah tantangan bagi kami, untuk berkolaborasi dengan para pengembang lokal," ujar pria yang akrab disapa Greg ini dalam wawancara terbatas dengan sejumlah wartawan di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (10/9/2009) petang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, untuk mendapatkan berbagai aplikasi tersebut, pengguna bisa mendownloadnya secara gratis atau ada yang berbayar. Hal inilah yang dimaksud RIM sebagai peluang cerah tersebut.
Operator telekomunikasi sendiri sudah mengendus peluang itu dan coba mengadu nasibnya. Seperti XL, mereka sampai membuka toko online khusus BlackBerry yang
diberi nama XL Mall.
Berbagai aplikasi yang ditawarkan XL Mall ini tidak dibuat oleh sang operator seluler itu sendiri, melainkan dengan menggandeng pengembang software lokal bernama
Better-B.
Untuk aplikasi Al Quran plus terjemahan misalnya, dibanderol Rp 10 ribu (sebelum pajak) untuk bisa diunduh pengguna. Beban tarif akan langsung dipotong di pulsa pengguna.
Pengembang lokal seperti inilah yang diharapkan RIM dapat tumbuh di Indonesia. Meski hal itu berarti memperkuat basis ketersediaan aplikasi di produk perusahaan asal Kanada itu, namun harus diakui juga bahwa hal ini ikut menghidupkan industri software lokal.
(ash/faw)