Software yang bernama General Circulation Model/Limited Area Model (GCM/LAM) versi 1.0 beta ini pada dasarnya adalah kompresi dari super komputer yang dimiliki LAPAN. Kompresi dilakukan agar software tersebut bisa berjalan di komputer dekstop ataupun laptop.
"Yang ini (GCM/LAM 1.0 beta - red) merupakan versi untuk pendidikan dan penelitian. Ini hasil kompresi dari super komputer yang kita miliki," ujar Didi Satyadi, salah seorang peneliti di LAPAN kepada detikINET, Rabu (22/4/2009) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita coba meniru atmosfer yang sesungguhnya dengan model matematik. Sehingga prediksi cuaca dan kondisi iklim ke depan bisa diprediksi. Sedang pengamatan atmosfer secara manual hanya untuk mengamati dan memperkirakan kondisi cuaca dan iklim sekarang atau saat dilakukan pengamatan," terangnya.
Software yang sudah dikembangkan sejak tahun 2007 ini, juga bisa dimanfaatkan bagi institusi pendidikan ataupun peneliti untuk kegiatan ilmiahnya. Tak hanya itu, menurut Didi, jika diterapkan di sekolah-sekolah maka akan membangun kesadaran siswa terhadap kondisi alam semesta. Karena simulasi di software tersebut mengambarkan kondisi sebenarnya.
"Siswa bisa belajar misalnya bagaimana tentang atmosfer jikalau CO2 bertambah. Kita tinggal masukan angkanya, sehingga bisa diperlihatkan kondisinya seperti apa dan siswa bisa memprediksi bagaimana kondisi yang akan terjadi," kata pria berkulit putih ini.
Disinggung mengenai biaya produksi software tersebut, Didi mengaku tidak mengetahui secara pastinya. "Masalah investasi saya tidak tahu. Kita juga tidak tahu kapan ini akan dirilis ke masyarakat umum. Karena banyak standar yang harus dipenuhi sebelum dilepas ke masyarakat," pungkasnya.
Software ini akan berjalan dengan baik di komputer atau laptop dengan spesifikasi minimum menggunakan prosesor Intel Pentium IV 1,5 Ghz, memori 512 Mb, hard disk 200 Mb dan menggunakan Windows XP sebagai operating systemnya.
(afz/wsh)