Sehingga diperkirakan pendapatan setahun bisa mencapai USD 360 juta. Maka, bukan hal yang mengagetkan lagi jika toko online Apple dapat menjanjikan bisnis bernilai miliaran dolar.
Namun, bisnis itu tidak serta-merta akan mendatangkan laba bagi Apple. Meskipun juga tidak membuat Apple rugi. Tepatnya, Apple hanya mengutip 30 persen dari pendapatan di toko aplikasi itu. Seperti dikutip detikINET dari TimesOnline, Rabu (13/8/2008), jumlah itu diperkirakan setara dengan biaya untuk transaksi kartu kredit dan operasional lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan bahwa smartphone Apple yang begitu digandrungi banyak orang ini telah menciptakan sebuah komunitas developer dan ekosistem sendiri. iPhone mampu menghadirkan sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya di ranah mobile.
Dibangun dengan XCode 3.1, aplikasi dasar iPhone serupa dengan aplikasi Mac OS, sehingga dapat menciptakan suatu sinergi yang bermanfaat. "Dengan memiliki developer Mac OS yang paham Xcode untuk mengembangkan aplikasi bagi iPhone, maka dapat menciptakan simbiosis yang bagus," ujar Michael Oh, presiden Tech Superpowers, pengecer Apple yang berbasis di Boston, seperti dikutip detikINET dari CRN, Rabu (13/8/2008).
Kendati demikian, beberapa rekanan Apple berpendapat bahwa suatu ketika kejayaan toko online Apple akan memudar. "Suatu hari nanti ketika orang telah memiliki iPhone untuk beberapa lama, mereka tidak ingin men-download lebih banyak lagi aplikasi," tandas John Eaton, Presiden Eaton & Associates, pembuat aplikasi yang berbasis di San Fransisco,
Di sisi lain, Apple pun diketahui kerap direpotkan oleh aplikasi yang 'nakal'. Misalnya, sebuah aplikasi bertajuk 'I Am Rich' memiliki harga USD 999 dan hanya menampilkan animasi batu mulia berwarna merah. Akhirnya aplikasi itu ditarik dari toko dan penjualannya dibatalkan. Meskipun pembuatnya mengatakan aplikasi itu adalah 'karya seni' semata.
Ingin ngobrol iPhone? Yuk ke detikINET Forum!
(faw/wsh)