Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam

BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam


Fino Yurio Kristo - detikInet

A Blackberry smartphone is displayed in this August 12, 2010 illustrative photo. REUTERS/Bobby Yip/File Photo             GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD PACKAGE       SEARCH BUSINESS WEEK AHEAD JUNE 20 FOR ALL IMAGES
BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam. Foto: Reuters
Jakarta -

CEO BlackBerry John Giamatteo memandang robot bertenaga kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang pertumbuhan besar bagi mantan raja smartphone tersebut. Pernah menjadi salah satu produsen ponsel terbesar di dunia, BlackBerry yang berbasis di Kanada kini telah bertransformasi.

Sistem operasi QNX BlackBerry, yang menyediakan software dasar untuk berbagai fitur mulai dari sistem pengereman hingga fungsi kemudi semi otonom, kini tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia. Mereka kini memperluas fokus di luar industri otomotif untuk memanfaatkan pasar AI fisik yang sedang berkembang.

"Meski produk yang kami jual saat ini tidak dapat digenggam di telapak tangan Anda, produk-produk tersebut tersebar di mana-mana di sekitar Anda," ungkap Giamatteo yang dikutip detikINET dari CNBC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Ada 275 juta mobil, robot, pemerintahan, instrumen medis, hingga rantai pasok. Itulah BlackBerry yang baru, dan itulah yang mendorong seluruh pertumbuhan kami," imbuhnya.

Robotika menjelma menjadi salah satu segmen bisnis dengan pertumbuhan tercepat bagi QNX. Berbeda dengan AI generatif yang memproduksi teks dan gambar, AI fisik memungkinkan robot dan mesin lainnya berinteraksi langsung dengan dunia nyata.

Intinya, BlackBerry melihat adanya peluang untuk menyediakan software dasar yang membantu mesin-mesin tersebut beroperasi secara aman dan andal, berbekal pengalamannya di industri otomotif.

BlackBerry baru-baru ini mengumumkan royalti QNX-nya melampaui USD 1,2 miliar, peningkatan lebih dari USD 250 juta selama dua kuartal. Giamatteo mengidentifikasi tiga pendorong pertumbuhan tersebut: transisi produsen mobil menuju sistem komputasi lebih canggih, ekspansi penawaran software, dan munculnya permintaan untuk aplikasi AI fisik.

Investor mulai menyadari kebangkitan ini. Saham BlackBerry melonjak 142% tahun 2026, menyusul masa-masa sulit bertahun-tahun bagi perusahaan yang ponsel ber-keyboard fisiknya dahulu sangat ikonik dan merajai dunia smartphone, jauh sebelum hadirnya iPhone serta perangkat lain yang sepenuhnya menggunakan layar sentuh.

Kala itu, saat masih bernama Research in Motion, nilai kapitalisasi pasar saham perusahaan sempat mencapai puncak di angka hampir USD 85 miliar tahun 2008, setahun setelah peluncuran perdana iPhone. Saat ini, kapitalisasi pasar BlackBerry berada di kisaran USD 5,4 miliar.

Giamatteo juga menyoroti kemitraan BlackBerry dengan Nvidia, yang bermula dari sektor otomotif. Kini, Nvidia menetapkan QNX sebagai standar platform pilihan untuk sistem Halos Safety Stack mereka.

"Hal ini membuka begitu banyak pintu, sebuah rentetan peluang luar biasa, untuk berbagai perangkat seperti AMR (automated mobile robots), forklift otonom, hingga perangkat skateboard otonom yang memindahkan palet ke stasiun bongkar muat," jelasnya.

(fyk/afr)






Hide Ads