Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bos LG CNS Ungkap Tantangan AI Indonesia, GPU hingga SDM

Bos LG CNS Ungkap Tantangan AI Indonesia, GPU hingga SDM


Adi Fida Rahman - detikInet

President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won
Bos LG CNS Ungkap Tantangan AI Indonesia, GPU hingga SDM Foto: Adi FR/detikINET
Jakarta -

Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI), terutama keterbatasan GPU, infrastruktur data center, dan tenaga ahli. Ketiga faktor tersebut dinilai perlu diperkuat agar teknologi AI dapat dimanfaatkan lebih luas, termasuk dalam layanan pemerintahan.

Hal itu disampaikan President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won, saat berbincang dengan detikINET. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan AI, tetapi kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan rumah.

Mark menyoroti ketersediaan Graphics Processing Unit (GPU), perangkat komputasi yang berperan penting dalam melatih dan menjalankan model AI. Selain GPU, Indonesia membutuhkan infrastruktur data center yang memadai serta lebih banyak tenaga profesional yang menguasai pengembangan AI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan tersebut juga dirasakan di lingkungan pemerintahan. Mark menilai kesiapan infrastruktur dan kemampuan teknologi di sejumlah kementerian maupun lembaga belum merata, sehingga penerapan AI membutuhkan persiapan lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dengan memperkuat infrastruktur, meningkatkan kompetensi SDM, dan memanfaatkan kerja sama teknologi dengan negara lain.

Coretax Bisa Jadi Fondasi Pengembangan AI

Salah satu peluang penerapan AI yang disoroti Mark adalah Core Tax Administration System (Coretax), sistem administrasi perpajakan milik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan.

LG CNS merupakan integrator sistem utama dalam konsorsium pengembang Coretax bersama Qualysoft. Menurut Mark, data yang telah terintegrasi dalam sistem tersebut dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan layanan perpajakan berbasis AI.

Salah satu teknologi yang berpotensi digunakan adalah agentic AI, yakni kecerdasan buatan yang mampu menjalankan serangkaian tugas berdasarkan tujuan dan kewenangan yang diberikan, bukan sekadar menjawab pertanyaan pengguna.

Dalam layanan perpajakan, teknologi tersebut berpotensi membantu otomatisasi proses administrasi dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, Mark tidak menyatakan bahwa kemampuan agentic AI tersebut sudah diterapkan dalam Coretax saat ini.

Mark mengungkapkan bahwa DJP tengah menyiapkan rencana pengembangan AI. LG CNS menyatakan siap membantu apabila dibutuhkan, tetapi keputusan mengenai teknologi dan waktu penerapannya tetap berada di tangan otoritas perpajakan Indonesia.

President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik WonPresident Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won Foto: Adi FR/detikINET

Belajar dari Sovereign AI Korea Selatan

Selain infrastruktur, Mark menyoroti pentingnya pengembangan sovereign AI atau AI berdaulat. Konsep ini menekankan kemampuan suatu negara untuk mengendalikan data, model, dan infrastruktur AI yang digunakan, terutama untuk kebutuhan strategis pemerintah.

Korea Selatan telah mengembangkan pendekatan tersebut melalui program nasional K-AI yang mendorong pengembangan model AI domestik.

Salah satunya adalah K-EXAONE, model AI yang dikembangkan oleh konsorsium LG AI Research dengan LG CNS sebagai salah satu anggotanya.

Melalui pendekatan sovereign AI, data sensitif pemerintah dapat dikelola menggunakan infrastruktur yang berada di bawah kendali nasional. Model AI juga dapat disesuaikan dengan bahasa, regulasi, serta kebutuhan layanan publik masing-masing negara.

Bagi Indonesia, pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan AI yang memahami bahasa Indonesia dan konteks administrasi pemerintahan. Namun, penerapannya membutuhkan investasi komputasi, tata kelola data, dan tenaga ahli yang memadai.

LG CNS sendiri memiliki sejumlah kemitraan teknologi global, termasuk dengan NVIDIA di bidang AI data center dan robotika, Anthropic untuk pemanfaatan Claude, serta Microsoft dalam pengembangan AI dan cloud. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan Palantir dan memiliki kemitraan dengan Google Cloud.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya LG CNS mengembangkan layanan transformasi digital menuju transformasi berbasis AI.

Optimistis dengan Indonesia

Meski menyoroti berbagai tantangan, Mark melihat kemajuan signifikan dalam industri teknologi Indonesia selama dua dekade terakhir.

LG CNS mulai beroperasi di Indonesia pada 2006. Menurut Mark, kemampuan tenaga profesional dan perusahaan teknologi lokal saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan ketika perusahaan pertama kali hadir di Tanah Air.

Ia mencontohkan sejumlah proyek teknologi pemerintahan yang kini dapat dioperasikan secara mandiri oleh tim Indonesia setelah melalui proses transfer pengetahuan.

Pengalaman tersebut membuat Mark optimistis Indonesia juga mampu meningkatkan kapasitas pengembangan AI, asalkan investasi infrastruktur berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan SDM.

Mark menilai kerja sama teknologi dan transfer pengetahuan dapat membantu mempercepat proses tersebut, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu mengembangkan dan mengelola teknologi sesuai kebutuhan sendiri.

"Saya melihat kemampuan teknologi informasi Indonesia meningkat sangat signifikan dan dramatis selama 20 tahun terakhir. Saya percaya Indonesia tidak hanya mampu berkembang di bidang IT, tetapi juga AI, bahkan robotika di masa depan," ujar Mark.

(afr/afr)






Hide Ads