Kecerdasan buatan (AI) menjadi fokus ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu minggu ini.
Model-model AS tercanggih memang memimpin di sebagian besar benchmark, tapi perusahaan China seperti DeepSeek, Z.ai, dan Alibaba telah merilis deretan model AI baru dengan peningkatan performa signifikan seperti penulisan kode pemrograman.
Menurut data penggunaan yang dibagikan pada CNBC, tingkat adopsi global model-model AI asal China oleh berbagai perusahaan meningkat substansial di 2026.
Pangsa penggunaan model AI China beralih dari yang sebelumnya tergolong kecil menjadi mayoritas di dua platform developer utama, yang menyediakan akses bagi berbagai perusahaan untuk menggunakan model dari penyedia berbeda.
Di OpenRouter, model-model China menyumbang 57%-67% total token yang digunakan pada pekan 14 September, naik dari 6%-13% pada bulan Februari. Sementara di Vercel, pangsa mereka naik jadi 55% pada Agustus, dibandingkan 11% bulan Januari.
Data OpenRouter berkaitan dengan perusahaan-perusahaan di AS, Eropa, dan kawasan yang didefinisikan sebagai Global South, mencakup 82 negara di Amerika Tengah dan Selatan, Afrika, dan Asia. Vercel tidak merinci detail geografisnya.
Kekhawatiran kian meningkat di Washington, di mana dua Komite DPR AS tengah menyelidiki dampak dari lonjakan adopsi model-model AI ini.
AS berupaya mempertahankan dominasi AI dengan membatasi perusahaan AI China membeli chip paling mutakhir. Namun Washington khawatir perusahaan-perusahaan tersebut mengakses chip Nvidia dari jarak jauh melalui data center luar negeri, serta mengejar ketertinggalan menggunakan metode distilasi, yaitu model baru meniru model yang lebih lama dan mapan.
AI China dinilai menghadirkan risiko ekonomi dan keamanan nyata bagi AS. "Kekhawatiran utama adalah integrasi model AI China akan menarik negara-negara lain ke lingkup pengaruh teknologi China yang kemudian mengeras jadi keberpihakan geopolitik," jelas Daniel Remler, peneliti di Center for a New American Security (CNAS).
Peter Walker dari OpenRouter, mengatakan model open source China yang dirilis tahun ini secara meyakinkan mampu menjalankan kasus penggunaan tingkat lanjut berbasis agen, terutama terkait koding. Model-model tersebut juga sangat hemat biaya dari sebagian besar model Amerika.
Awal minggu ini, OpenAI dan Anthropic sama-sama mengumumkan deretan model baru yang lebih murah. "Faktor harga menjadi kunci dalam lonjakan adopsi model China," kata Harpreet Arora dari Vercel.
"Model China kini cukup mumpuni untuk mengerjakan lebih banyak tugas dengan biaya jauh lebih rendah. Begitu sebuah model memenuhi standar kualitas untuk suatu pekerjaan, perbedaan harga tersebut akan sangat memikat," imbuhnya,
Namun ia menambahkan perusahaan-perusahaan masih ingin menggunakan model AS kelas atas untuk mengerjakan beberapa tugas yang lebih rumit.
Pebisnis di kawasan yang didefinisikan OpenRouter sebagai Global South menjadi kelompok pengguna terbesar model AI China di sistem perusahaan tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
"Asia Tenggara khususnya, mungkin akan mencatat lonjakan adopsi signifikan terhadap model AI China mengingat hubungan ekonomi dan budaya erat dengan China ditambah infrastruktur digital yang terus berkembang," kata Remler dari CNAS, dikutip detikINET dari CNBC.
"Di mana pun itu, mulai dari Lagos, Sao Paulo, hingga Jakarta, para pengusaha dan pemerintah yang mencari model open source murah akan pertama kali menoleh pada AI buatan China," cetusnya.
Simak Video "Video Donald Trump Soroti Kemuculan Teknologi AI DeepSeek: Jadi Peringatan"
(fyk/fay)