×
Ad

Harga Bitcoin Hancur, Penambang Mulai Matikan Perangkat

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 06 Feb 2026 10:15 WIB
Harga Bitcoin Hancur, Penambang Mulai Matikan Perangkat. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Harga Bitcoin merosot ke bawah level USD 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin turun hampir 30% setahun terakhir. Pada satu titik Bitcoin merosot ke USD 62.303 atau terendah sejak November 2024. Terakhir Bitcoin diperdagangkan di USD 63.010.

"Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat," kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan dikutip dari CNBC.

Kejatuhan Bitcoin ini membuat penambangan token digital tersebut menjadi jauh kurang ekonomis. Proses penambangan kripto ini terkenal sangat boros komputasi dan energi. Nah menurut laporan Bloomberg, perusahaan komputasi skala besar mulai mematikan peralatan mereka.

Seiring harga terus merosot dan biaya listrik menanjak, situasi menjadi sangat sulit bagi penambang kripto. Menurut Luxor Technology, indeks harga hash yang digunakan untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang bisa diraih penambang dari menambang kripto, mencapai titik terendah dalam sejarah minggu ini.

Menurut Coindesk yang dikutip detikINET dari Futurism, biaya rata-rata menambang satu Bitcoin saat ini berkisar di angka USD 87.000, jauh lebih tinggi daripada harga jualnya saat ini, menjadikannya sangat tidak menguntungkan.

Ini adalah kehancuran signifikan karena investor terus melepas cadangan mereka, di mana beberapa pihak membandingkannya dengan momen saat China melarang penambangan kripto pada tahun 2021. Para penggemar kripto memperkirakan yang terburuk, bahkan ada yang memprediksi akan menukik hingga hanya USD 30.000.

"Penurunan ini bersejarah, terbesar sejak pelarangan di China," ujar Harry Sudock, Chief Business Officer perusahaan penambangan CleanSpark. Ia menjelaskan badai musim dingin yang menaikkan harga listrik, dikombinasi aksi jual sektor teknologi yang lebih luas baru-baru ini, kemungkinan besar jadi penyebabnya.

Mematikan perangkat keras penambangan selama kondisi cuaca ekstrem atau lonjakan harga bukan hal baru, tapi penurunan kali ini terjadi pada momen aneh. Kripto sering dipuja sebagai aset aman oleh pendukungnya. Mengingat gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, harga kripto seharusnya meroket. Namun logam mulia, terutama emas, justru berkinerja baik sementara Bitcoin hancur.

Nilai satu ons emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa akhir tahun lalu karena investor mencari investasi yang jauh lebih aman daripada mata uang kripto yang fluktuatif. Harga emas sejak itu sempat turun, namun stabil di harga yang jauh lebih tinggi daripada sebelum kenaikan.

Daripada menambang kripto, perusahaan-perusahaan mulai beralih haluan dengan mengalokasikan hardware mereka untuk menggerakkan model AI daripada menambang kripto. Apakah langkah itu akan menjadi taruhan yang lebih aman mengingat investor juga mulai ragu terhadap AI? Hal itu masih harus dilihat nanti.



Simak Video "Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?"

(fyk/asj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork