Peluang dan Tantangan Penerapan Ruang Kerja Hybrid - Halaman 2

Peluang dan Tantangan Penerapan Ruang Kerja Hybrid

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Minggu, 19 Sep 2021 20:52 WIB
Kerja Hybrid Entrust
Foto: Dok. Entrust

Keamanan data kantor saat karyawan bekerja di rumah menjadi tantangan baru: Perusahaan-perusahaan harus mengubah pendekatan keamanan data mereka karena karyawan lebih terdesentralisasi dibandingkan sebelumnya.

Meskipun keamanan data jadi prioritas bagi pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 88% dari mereka mengatakan bahwa perusahaan yang mereka pimpin menawarkan pelatihan keamanan data kepada karyawan, hanya 69% karyawan yang mengatakan bahwa perusahaan mereka menawarkan pelatihan tersebut. Ini mengindikasikan ada kesenjangan komunikasi.

"Dengan penelitian yang secara tegas mengindikasikan keinginan 91% karyawan di dunia dan 93% karyawan di Indonesia untuk bekerja dengan model hybrid ke depannya," ujar James Cook, Director of Digital Security, Asia Pacific and Japan, Entrust, dalam keterangan yang diterima detikINET.

"Data penelitian ini memberikan wawasan kepada berbagai perusahaan mengenai cara mengimplementasikan kerja dari mana saja, dan memasukkan sistem keamanan ke dalam pendekatan hybrid mereka dengan bekerja sama dengan perusahaan seperti Entrust untuk mengimplementasikan solusi-solusi seperti otentifikasi tanpa password dan otentifikasi biometrik, verifikasi dengan mobile ID dan banyak lagi," tambahnya.

Agar perusahaan-perusahaan dapat mengikuti tren ini dan mempekerjakan karyawan di lingkungan baru yang hybrid, ada beberapa cara untuk meningkatkan dan mengamankan proses bergabungnya karyawan baru.

Penelitian ini menemukan bahwa di Indonesia, kurang dari setengah (45%) pemimpin bisnis memperbaiki metode pelatihan mereka, namun hampir dua pertiga (62%) menggunakan alat kolaborasi baru atau yang sudah ditingkatkan, dan hampir tiga perempat (73%) dari mereka menerapkan penerbitan mobile ID untuk karyawan yang bekerja secara remote.

Lebih jauh lagi, 75% dari pemimpin bisnis di Indonesia mengambil langkah untuk menjaga keamanan internal dengan memberlakukan teknologi one-time password, 70% menggunakan otentifikasi biometrik dan 69% menggunakan verifikasi mobile ID. Mereka menyebut langkah-langkah tersebut diambil agar mereka selangkah lebih maju dari peretas dan data internal mereka terlindungi.

(asj/asj)