Chip Langka Bikin Harga Ponsel Huawei di China Menggila

Chip Langka Bikin Harga Ponsel Huawei di China Menggila

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 17 Sep 2020 21:30 WIB
Huawei P40 Pro Plus
Huawei P40 Pro. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Konsumen di China bergegas membeli smartphone Huawei yang dibekali chip Kirin kelas atas. Mereka khawatir pembatasan akses Huawei ke teknologi milik Amerika Serikat (AS) menghentikan produksi handset premiumnya.

Sejumlah pedagang ponsel di Huaqiangbei, pasar elektronik terbesar di dunia yang berlokasi di selatan Kota Shenzhen melaporkan, harga ponsel Huawei baru dan bekas terus meningkat selama sebulan terakhir, rata-rata sekitar 400 hingga 500 yuan (sekitar Rp 800 ribu - 1 juta).

Salah satu vendor di Huaqiangbei menyebutkan, konsumen khawatir terbatasnya pasokan komponen, terutama untuk chip ponsel premium akan menyebabkan Huawei tidak memproduksi lagi handset tersebut.

"Harga ponsel Huawei semakin mahal. Tapi itu terjadi karena adanya penawaran dan permintaan. Jika orang menyukai mereknya, mereka akan membayar lebih," kata salah satu pemilik outlet bernama Xiao, seperti dikutip dari Reuters.

Banderolnya semakin menggila untuk flagship edisi khusus. Dicontohkan salah satu pedagang, untuk edisi desain Porsche Mate 30 yang jadi andalan Huawei kini dijual seharga 14.000 yuan (Rp 30,7 juta) dari harga 10.000 yuan (Rp 21,9 juta) pada Januari lalu. Ponsel itu juga tersedia dengan harga yang sama secara online di Taobao.

Rupanya, dampak dari larangan melakukan bisnis dengan Huawei yang diterapkan pemerintah AS masih berkepanjangan. Untuk diketahui, larangan tersebut diberlakukan AS atas alasan keamanan nasional, meski Huawei berulangkali membantahnya.

Bulan lalu, AS semakin memperketat batasan untuk mencekik akses Huawei untuk pasokan chip yang tersedia secara komersial, sehingga membuat mendorong Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) menghentikan pengiriman chip untuk Huawei.

Chief Executive Huawei Consumer Business Richard Yu baru-baru ini mengumumkan bahwa perusahaannya akan berhenti memproduksi chip Kirin pada 15 September. Keputusan ini terpaksa dilakukan karena AS semakin mencekik HiSilicon, unit bisnis semikonduktor Huawei, sehingga sulit memproduksi chip.

HiSilicon sendiri mengandalkan software milik perusahaan AS seperti Cadence Design Systems Inc CDNS.O atau Synopsys Inc SNPS.O untuk merancang chipnya, dan mengalihkan produksinya ke TSMC yang menggunakan peralatan buatan AS.

Pedagang grosir di pasar China mengatakan, penjualan selama sebulan terakhir sangat sibuk karena mereka berupaya memenuhi permintaan tambahan untuk penjualan online, dan harga ponsel kelas atas Huawei terus naik setiap beberapa jam. Mereka tidak yakin berapa banyak pasokan yang tersisa di distributor.

Huawei sejauh ini tidak mengungkapkan informasi mengenai inventaris. Juru bicara Huawei hanya mengatakan bahwa pihaknya akan terus beroperasi sesuai permintaan.

Analis dan konsultan dari IDC Will Wong memperkirakan, kemungkinan Huawei memiliki persediaan chip hanya bisa bertahan hingga paruh pertama tahun depan.

"Salah satu pilihan bagi mereka agar chip Kirin bertahan lebih lama adalah mengurangi pengiriman untuk sisa tahun ini," kata Wong.

Minggu lalu, Huawei mengumumkan rencana untuk memperkenalkan sistem operasi Harmony pada smartphone tahun depan. Keputusan ini sebagian dilakukan sebagai upaya mengatasi pembatasan akses ke Google Android.

Namun analis Mo Jia dari Canalys menilai, peluncuran Harmony hanya akan menjadi 'inovasi simbolis' jika Huawei tidak punya pasokan chip untuk memproduksi ponsel high end.



Simak Video "Huawei Nova 7 Bisa Rekam Video 2 Arah, Ini Spesifikasinya"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)