Orang Terkaya Jepang di Balik Kabar Merger Gojek dan Grab

Orang Terkaya Jepang di Balik Kabar Merger Gojek dan Grab

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 15 Sep 2020 15:15 WIB
Masayoshi Son
Foto: Getty Images
Jakarta -

Dua perusahaan ride-hailing Asia Tenggara Grab dan Gojek disebut-sebut sedang dalam pembicaraan merger. Nah kabarnya lagi, ada campur tangan orang terkaya Jepang, di balik upaya tersebut.

Sosok yang dimaksud adalah Masayoshi Son. Dia adalah pendiri sekaligus CEO Softbank. Perusahaannya tercatat sebagai pemegang saham di Grab dan Gojek. Masayoshi yang langganan orang terkaya Jepang ini disebut yang menekan agar merger itu dilakukan.

Softbank tidak sendiri, ada sederet investor lain yang menanamkan duitnya di kedua perusahaan penyedia ojek online itu, di antaranya Alibaba, Tencent, Mitsubishi, PayPal, Google, Facebook dan Visa.

Nah pembicaraan merger Grab dan Gojek konon sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, namun karena tidak ada urgensinya maka tidak lanjut, bahkan kabarnya tak direstui Softbank lantaran Masayoshi percaya waktu itu bisnis ride-hailing akan jadi industri monopoli di mana yang paling banyak uang menguasai pasar. Namun kini pandangan tersebut berubah, ujar orang yang dekat dengan miliuner Jepang tersebut.

Maret lalu, Softbank dan Son dilaporkan mendorong agar Grab dan Gojek bersatu sebelum pasar berdampak serius oleh COVID-19. Mungkin ini sebagai ancang-ancang kaki perusahaan telekomunikasi asal Jepang agar tidak mencatat kerugian lagi.

Seperti diketahui Softbank bekerja keras untuk membersihkan neraca setelah serangkaian kerugian besar usai investasinya di WeWork berakhir bencana. Tercatat nilai kerugiannya mencapai USD 8,9 miliar atau di kisaran Rp 124 triliun.

Kerugian tersebut pertama kali terjadi dalam 14 tahun. Imbasnya mereka menjual aset USD 41 miliar untuk membayar utang. Divestasi paling menonjol pada 13 September dengan menjual ARM Holdings kepada Nvidia senilai SUD 40 miliar.

Hanya saja dorongan Son dan Softbank agar Grab dan Gojek merger tentu tidak akan mudah. Pasalnya, menurut laporan The Business Times, Alibaba sedang dalam pembicaraan untuk menginvestasikan USD 3 miliar ke Grab. Hal itu dapat membuat potensi merger menjadi rumit dalam hal pertimbangan antitrust.

"Jika merger Grab-Gojek tidak cukup sulit, masuknya Alibaba dan bisnis terkaitnya akan meningkatkan pengawasan regulasi," Justin Tang, direktur dan kepala penelitian Asia di grup penasihat United First Partners.

Bloomberg melaporkan bahwa investasi Alibaba dapat mengikat Grab dan Lazada Group. Sebab perusahaan besutan Jack Ma itu akan menjadi pemegang saham mayoritas. Hal itu menimbulkan lebih banyak masalah persaingan mengingat Lazada adalah pemimpin di pasar e-commerce di sejumlah negara di Asia Tenggara.

Jika Alibaba menginvestasikan USD 3 miliar dalam Grab, itu akan membuat valuasinya menjadi USD 13,1 miliar. Semua perusahaan dengan modal ventura harus exit di beberapa titik, baik melalui penawaran umum perdana atau penjualan pribadi.

Di Grab ada batasannya. Berdasarkan ketentuan kesepakatan Uber 2018, itu harus dilakukan pada pertengahan 2023 atau membayar Uber USD 2 miliar. Mengingat waktu semakin cepat untuk Grab, merger dengan Gojek menjelang IPO menjadi lebih masuk akal.



Simak Video "Telkom Buka Suara Terkait Kabar Investasi ke Gojek"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fyk)