ByteDance: Algoritma TikTok Tidak Ikut Dijual ke Amerika

ByteDance: Algoritma TikTok Tidak Ikut Dijual ke Amerika

Virgina Maulita Putri - detikInet
Senin, 14 Sep 2020 12:03 WIB
Presiden AS Donald Trump resmi keluarkan perintah eksekutif melarang TikTok dan WeChat beroperasi di AS. Aturan itu berlaku dalam 45 hari ke depan.
ByteDance: Algoritma TikTok Tidak Ikut Dijual ke AS Foto: AP Photo
Jakarta -

Proses penjualan bisnis TikTok di Amerika Serikat masih berlanjut, ada kemungkinan Oracle yang mendapatkan TikTok. Tapi ByteDance selaku pemilik TikTok mengatakan algoritma yang mentenagai mesin rekomendasi TikTok tidak ikut dijual.

Sumber anonim tersebut mengatakan ByteDance telah memberi tahu otoritas AS dan calon pembeli soal kebijakan ini. Nantinya pemilik baru TikTok harus mengembangkan algoritmanya sendiri.

"Mobilnya bisa dijual, tapi mesinnya tidak," kata sumber yang dekat dengan direksi ByteDance, seperti dikutip detikINET dari South China Morning Post, Senin (14/9/2020).

"Perusahaan (ByteDance) tidak akan memberikan source code kepada pembeli manapun dari AS, tapi tim teknologi TikTok di AS bisa mengembangkan algoritma baru," sambungnya.

Sumber tersebut mengatakan syarat penjualan TikTok tanpa algoritma sekarang menjadi dasar untuk setiap diskusi penjualan atau restrukturisasi TikTok, menyusul diperkenalkannya aturan kontrol ekspor baru di China.

Beberapa minggu yang lalu, pemerintah China memperbarui aturan ekspornya, yang mengharuskan perusahaan untuk mendapatkan izin resmi jika ingin menjual teknologi seperti algoritma TikTok ke perusahaan asing. ByteDance mengatakan mereka akan menuruti regulasi tersebut.

Pemerintah China sepertinya mendukung kebijakan ByteDance untuk tidak menjual algoritma TikTok. Seorang sumber dari pemerintah, yang terlibat dalam meregulasi TikTok, beberapa waktu yang lalu mengatakan ByteDance boleh menjual semua bagian TikTok tapi tidak algoritmanya.

Seorang sumber yang familiar dengan teknologi tersebut mengatakan ByteDance menggunakan source code yang sama untuk TikTok di semua negara, tapi dengan modifikasi untuk pasar yang berbeda.

"Secara teori, tim AS bisa menyalin algoritmanya, tapi akan memakan waktu bagi pengguna untuk terbiasa menggunakan algoritma salinan," kata sumber tersebut.

"Dengan kompetisi antar aplikasi serupa semakin panas, akan sulit untuk menyusul jika kalian membutuhkan waktu tambahan," sambungnya.

Algoritma berfungsi memberikan rekomendasi dan menampilkan video. Dengan kata lain, algoritma ini merupakan rahasia yang membuat pengguna TikTok betah berlama-lama menggunakan aplikasi karena terus menampilkan konten baru.

Sementara itu, Microsoft yang menjadi calon pembeli terdepan gagal membeli TikTok. Pasalnya ByteDance menolak tawaran untuk pembelian operasional TikTok di AS. Ditolaknya tawaran Microsoft kemungkinan terkait dengan keputusan ByteDance yang menolak menjual algoritma TikTok. Pengumuman Microsoft sendiri diungkap beberapa hari sebelum tenggat waktu 15 September yang ditetapkan oleh Presiden Trump. Dikabarkan, justru Oracle yang akhirnya mendapatkan TikTok.

Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Oracle akan diumumkan sebagai mitra terpercaya TikTok di AS. Sumber tersebut menambahkan, kesepakatan di antara TikTok dan Oracle akhirnya tidak akan disusun sebagai penjualan langsung.



Simak Video "ByteDance Tegaskan TikTok Tidak Dijual ke Microsoft atau Oracle"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)