Batu Sandungan Microsoft yang Mau Caplok TikTok

Batu Sandungan Microsoft yang Mau Caplok TikTok

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 11 Agu 2020 10:13 WIB
TikTok: Trump larang transaksi dengan ByteDance untuk atasi ancaman aplikasi China
Micrososft Hadapi Tantangan Besar untuk Caplok TikTok Foto: BBC World
Jakarta -

Keinginan Microsoft untuk membeli bisnis TikTok di Amerika Serikat akan menghadapi tantangan yang serius berupa masalah teknis. Bahkan batu sandungan ini akan menguji kesabaran pemerintahan Donald Trump.

Trump sudah memberikan Microsoft waktu hingga 15 September untuk menyelesaikan keperluan akuisisi tersebut. Jika perjanjian tidak tercapai dalam tenggat waktu tersebut, TikTok akan dilarang dan tidak boleh berbisnis dengan perusahaan AS.

Dikutip detikINET dari Reuters, Selasa (11/8/2020) Microsoft sudah meminta waktu transisi untuk memisahkan teknologi TikTok dari perusahaan induknya ByteDance. Tapi pemisahan ini diperkirakan akan memakan waktu satu tahun atau lebih.

Secara fungsional, TikTok serupa dengan Douyin, yang hanya beroperasi di China, dan memiliki sumber daya teknis yang sama dengan layanan milik ByteDance lainnya.

ByteDance sudah mulai memisahkan aset teknologi TikTok beberapa bulan yang lalu karena tekanan dari pemerintah AS. Ini merupakan bagian dari strategi untuk memindahkan operasi TikTok dari China.

Meski kode untuk aplikasi yang membedakan antara TikTok dan Douyin sudah dipisahkan, kode server ini sebagian masih sama dengan produk ByteDance lainnya. Kode server ini menyediakan fungsi dasar di aplikasi seperti penyimpanan data, algoritma untuk moderasi dan rekomendasi konten dan manajemen profil pengguna.

Untuk memastikan agar layanan TikTok tidak terganggu, Microsoft harus mengandalkan kode milik ByteDace sementara mereka mengulas dan merevisi kode tersebut dan dipindahkan ke infrastruktur back-end baru untuk melayani pengguna, menurut ahli keamanan siber dari River Loop Security Ryan Speers.

Jika Microsoft tetap mengandalkan sumber daya ByteDance setelah mengakuisisi TikTok, Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) mungkin tidak akan mengizinkannya.

Tantangan lainnya yang harus dihadapi Microsoft adalah bagaimana mereka mentransfer algoritma rekomendasi TikTok yang selama ini berperan besar untuk membuat pengguna betah lama-lama menjelajahi halaman 'For You'.

TikTok menggunakan algoritma rekomendasi yang berbeda dengan Douyin. Tapi yang membuat algoritma ini bekerja secara optimal adalah konten dan informasi yang diproses.

"Algoritma tidak bernilai apa-apa tanpa data. Memisahkan data untuk negara-negara tersebut adalah tugas yang signifikan," kata mantan Chief Information Officer Microsoft Jim DuBois.

Keinginan Microsoft untuk mengakuisisi bisnis TikTok di AS, Kanada, Australia dan Selandia Baru juga akan membuat proses pemisahan menjadi lebih rumit. Tidak hanya memisahkan TikTok dari ByteDance, Microsoft juga harus memisahkan TikTok dari negara lainnya.

"Bagian terbesar adalah memisahkan data pengguna - data konten dan data tentang pengguna," kata DuBois.

Ini akan menjadi tantangan tambahan karena jumlah data yang terlibat. TikTok mengatakan data pengguna AS disimpan secara lokal, dengan cadangan di Singapura, yang terpisah dengan data perusahaan lainnya.



Simak Video "ByteDance Tegaskan TikTok Tidak Dijual ke Microsoft atau Oracle"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/rns)