Serba-serbi Hooq yang Tamat Riwayatnya

Serba-serbi Hooq yang Tamat Riwayatnya

Virgina Maulita Putri - detikInet
Rabu, 29 Apr 2020 15:30 WIB
Foto Hooq
Serba-serbi Hooq yang Akan Tutup Layanan pada 30 April Foto: detikINET - Adi Fida Rahman
Jakarta -

Hooq, layanan streaming video on demand asal Singapura akan menutup layanannya pada 30 April mendatang setelah lima tahun beroperasi. Mereka pun telah mengucapkan selamat tinggal kepada pengguna di Indonesia lewat media sosial.

Lalu seperti apa kisah kehadiran Hooq dan sepak terjangnya selama lima tahun beroperasi? Dikutip detikINET dari Tech Crunch, Rabu (29/4/2020) Hooq merupakan joint venture yang didirikan oleh Singtel sebagai pemilik mayoritas dengan Sony Pictures dan Warner Bros Entertainment.

Didirikan pada tahun 2015, Hooq menawarkan layanan on demand untuk menonton film Hollywood, serial televisi, program lokal dan siaran televisi live di beberapa negara Asia. Hooq juga memproduksi dan menayangkan program original yang mereka kembangkan sendiri.

Layanan Hooq tersedia di Singapura, Indonesia, Philipina, Thailand dan India. Selama beroperasi mereka memiliki 80 juta pengguna, dengan India sebagai pasar terbesarnya.

Mereka kemudian mengadakan kerjasama dengan operator telekomunikasi untuk carrier billing dan mengadakan sejumlah penawaran khusus. Seperti di Indonesia mereka bekerjasama dengan Telkom, Indosat Ooredoo Smartfren, dan lain-lain.

Hooq juga sempat bekerjasama dengan Grab agar konten videonya bisa ditonton lewat aplikasi ride haling tersebut. Di Indonesia, biaya berlangganan Hooq mulai Rp 69.000 per bulan.

Pada tahun 2019, Hooq sempat mempertimbangkan untuk melakukan initial public offering (IPO). Pertimbangan ini dibuat untuk mengakomodir status Hooq sebagai bisnis Singtel yang bertumbuh pesat tapi masih merugi.

Pada 27 Maret 2020, Hooq mengajukan likuidasi setelah gagal berkembang dan kesulitan menutupi biaya operasionalnya. Hal ini yang memicu tutupnya layanan Hooq di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Hooq juga kesulitan menerima pendanaan dari investor baru maupun lama. Berdasarkan data Tech Crunch, Hooq telah mengumpulkan pendanaan sebesar USD 95 juta, termasuk USD 70 juta yang diberikan ketiga perusahaan pendirinya pada tahun 2015.

Tutupnya layanan Hooq sedikit mengejutkan pasalnya beberapa bulan yang lalu mereka baru saja mengungkap rencana untuk memperluas layanannya di negara-negara tempat mereka beroperasi.

Head of Localization Hooq, Yvan Hennecart dalam wawancara dengan Slator mengatakan perusahaannya sedang berusaha memperkaya katalognya dengan konten lokal dan menambah 100 konten original pada tahun ini.



Simak Video "Hooq Pamit dari Jagat Layanan Streaming"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fyk)