Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Indonesia Miskin Developer

Indonesia Miskin Developer


- detikInet

Jakarta - Dari 100 developer piranti lunak di Asia Pasifik, Indonesia diperkirakan hanya menyumbang satu orang saja. Angka ini jauh berbeda dibandingkan India, misalnya, yang menyumbang 31 orang. Miskin developer berarti masih ada peluang besar di bidang itu.Hal itu terkemuka dalam riset lembaga independen IDC yang dikutip detikinet dari keterangan Microsoft, Selasa (13/12/2005). Riset itu menyebutkan, jumlah pengembang di Indonesia pada tahun 2006 diperkirakan mencapai kisaran 62.100. Sedangkan India sekitar 1 juta. "Artinya dari 100 developer di Asia Pasifik 31 di antaranya orang India dan hanya 1 orang dari Indonesia. Hal ini menunjukan seberapa besar peluang untuk developer market. Negara-negara seperti India dan Singapura lebih banyak memproduksi software daripada mengonsumsinya," jelas Ari Kunwidodo, Vice President Microsoft Indonesia, dalam Microsoft Press Outing di Javana Spa, Sukabumi. Ari juga mengatakan jumlah perusahaan pengembang software di Indonesia masih kurang dari 400 perusahaan. "Dari 1.000 populasi masyarakat di Indonesia (220 juta-red), itu berarti tidak ada satupun developer. Penetrasi PC di Indonesia 4-5 persen sedangkan piracy rate 70-90 persen. Hal itulah yang membuat Indonesia berada di stage 1 di antara negara-negara di dunia berdasarkan suppy and demand score," tukas Ari.Menurutnya, ekosistem seperti itu harus dibantu dengan memfokuskan pada sektor pendidikan. Di Indonesia sendiri terdapat 359 perguruan tinggi yang berkaitan dengan TI dengan 130.095 siswa yang terlibat di dalamnya. Sedangkan di India terdapat 1 juta siswa yang kuliahnya berkaitan dengan TI. Bina ISVUntuk memberikan kontribusinya pada sektor pendidikan, Microsoft saat ini mengatakan punya komunitas penulis buku-buku tentang teknologi Microsoft yang bisa untuk dibagipakai (shared) melalui internet. Microsoft juga mengklaim telah mengembangkan perusahaan lokal pembuat software dalam sebuah program yang disebut Bina ISV. Dalam program tersebut, Microsoft mengatakan telah berhubungan dengan sejumlah universitas untuk merekomendasikan mahasiswanya yang akan lulus untuk mengikuti pelatihan di Microsoft. Selanjutnya para mahasiswa tersebut akan disalurkan ke sejumlah pengembang lokal independen (ISV) yang sudah ditunjuk Microsoft. Di sisi lain, menurut Ari, banyak perusahaan sebagai end-user yang membutuhkan berbagai aplikasi yang dikembangkan berbasis Windows. Berhubung karena Microsoft tidak mengembangkan sendiri, mereka menawarkan kepada perusahaan tersebut untuk menjadi 'Bapak Asuh' bagi sejumlah ISV yang dibinanya. Program itu menurut Ari telah berjalan di berbagai kota seperti Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Di Bandung, Astra Internasional bertindak sebagai Bapak Asuh yang mensupport 3 ISV lokal dan para mahasiswa dari ITB. Di Surabaya, perusahaan Chevron dan Perguruan Tinggi ITS. Sedangkan di Yogyakarta, Pemda Yogya yang dirangkul dengan mitra UGM. 'Bapak-Bapak Asuh' tersebut diklaim telah memberikan sejumlah proyek kepada sejumlah ISV tersebut. (wicak/)






Hide Ads