Bandara Akan Dilengkapi Pendeteksi Kebohongan?
- detikInet
Jakarta -
Israel menunjukkan keseriusannya menentang pembajak atau penyelundup narkoba. Alat pendeteksi kebohongan pun dipasang di bandar udara. Hmm... metal detector saja ternyata tak cukup.Standar keamanan tingkat tinggi ini telah melewati proses uji coba. Seperti dilansir Reuters yang dikutip detikinet, Jumat (18/11/2005), proses uji coba berlangsung di Rusia. Lewat suara, detektor mampu mengindikasi apakah penumpang punya rencana terselubung.Ada dua perangkat GK-1 yang digunakan untuk menganalisa suara. Sebelum masuk pesawat, penumpang diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dengan jawaban 'ya' atau 'tidak'. Saat dites dengan alat buatan perusahaan Israel Nemesysco ini, penumpang diminta mengenakan headphone yang terdapat pada konsol. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan lalu diinputkan melalui mikrofon.Software akan menganalisa getaran suara. Dari getaran itu bisa dideteksi apakah jawaban yang diberikan benar atau menngandung kebohongan.CEO Nemesysco, Amir Liberman mengatakan, alat tersebut telah diuji coba pada 500 penumpang. "Seseorang yang ketahuan berencana melakukan aktivitas ilegal, adalah orang yang gagal melewati tes," ungkapnya.Selain itu, Liberman mengungkap sekitar 12 persen penumpang cenderung stres meski mereka tidak merencanakan sesuatu yang buruk. "Ada beberapa orang yang tampak tegang karena mereka meminum obat, meski tidak bermaksud menyelundupkan narkoba," ungkapnya.Mereka yang gagal menjalani tes akan dikelompokkan, dan diberi pertanyaan yang lebih intensif, bahkan akan diselidiki lebih lanjut.Menurut Liberman, alat pendeteksi kebohongan ini memiliki kelebihan dibanding alat lain yang sejenis. "Alat ini tidak seperti alat pendeteksi kebohongan konvensional, seperti polygraph. Alat yang satu ini sangat invasive, hampir tidak memerlukan kontak fisik apapun," ujarnya. Selama uji coba, penggunaan alat ini hanya perlu waktu 30 hingga 75 detik, ujar Liberman. GK-1 rencananya dipasarkan dengan bandrol antara US$10.000 hingga US$30.000 (US$1 = Rp 10.005, sumber: detik.com). Aksi teror yang banyak terjadi akhir-akhir ini, tampaknya jadi pemicu munculnya kebutuhan akan alat pengaman seperti ini. Paska tragedi WTC 11 September 2001, di mana pelaku terlebih dulu membajak pesawat, membuat banyak pihak meningkatkan kewaspadaan. Banyak perusahaan penerbangan meningkatkan sistem keamanannya. Menurut Liberman, saat ini sudah ada beberapa negara yang tertarik memakai GK-1.(Keterangan foto: Deteksi kebohongan menggunakan polygraph)
(ien/)