Selasa, 18 Jun 2019 10:53 WIB

Ancaman China pada AS soal 'Tanah Jarang' Kian Gamblang

Fino Yurio Kristo - detikInet
Penambangan Tanah Jarang. Foto: Reuters Penambangan Tanah Jarang. Foto: Reuters
Jakarta - Logam 'tanah jarang' sepertinya benar-benar akan menjadi senjata bagi China untuk melawan Amerika Serikat dalam perang dagang. Lembaga perencana ekonomi China mengkonfirmasi bahwa ada kemungkinan pengendalian ekspor logam tersebut.

Dikutip detikINET dari CNA, National Development and Reform Commission mengungkap bahwa mereka telah berbicara dengan para pakar industri, perusahaan-perusahaan terkait dan pejabat regional. Hasilnya, disarankan agar Komisi itu membatasi ekspor tanah jarang.

NDRC mengaku akan mengeluarkan kebijakannya secepat mungkin. Juru bicara NDRC mengatakan tanah jarang punya nilai istimewa sebagai sumber daya strategis China. China ingin membantu negara lain dengan tanah jarang, tapi hanya jika kolaborasi mereka sama-sama menguntungkan.




"Negara-negara tertentu mengabaikan regulasi perdagangan dunia dan merusak rantai industri global. Kami sangat menentang hal ini," kata sang juru bicara.

"Siapapun yang berupaya memakai produk yang dibuat dengan Tanah Jarang China untuk menindas dan menghentikan perkembangan China, kami juga sangat menentang hal itu," tambah dia.

Sedangkan Global Times, media pemerintah China, mengatakan bahwa perusahaan yang memproduksi perangkat militer AS kemungkinan akan mendapat pembatasan tanah jarang. Rakyat China juga diminta berjuang bersama-sama dalam menghadapi AS.




"China tidak akan takut pada ancaman atau tekanan apapun yang dibuat AS yang mungkin memperbesar friksi ekonomi dan perdagangan. China tak punya pilihan, tidak ada rute untuk menghindar dan kita hanya harus melawan sampai akhir," sebut Global Times.

"Tak ada satupun, tak ada kekuatan yang bisa meremehkan orang China dan kekuatannya serta kegigihan untuk berperang," tambah mereka.

Tanah jarang sendiri adalah kelompok 17 elemen kimia yang mayoritas diproduksi di China. Logam-logam tersebut sangat penting dalam produksi perangkat elektronik, stasiun nuklir sampai industri pertahanan.




Tanah jarang adalah bahan penting bagi AS. Kapal selam kelas Virginia yang bertenaga nuklir misalnya membutuhkan tanah jarang 4.100 kilogram. Kontraktor alat pertahanan AS seperti Raytheon dan Lockheed Martin memanfaatkannya untuk membuat sistem pemandu high end dan sensor misil serta platform militer lain.

Bahkan, pesawat tempur generasi kelima milik AS yaitu F-35 Lighting II Joint Strike Fighter, membutuhkan 417 kilogram tanah jarang. Jika China sampai menghentikan ekspor, AS berpotensi kelabakan karena Negeri Paman Sam itu praktis tak punya kapabilitas untuk memproduksinya. Menurut Bloomberg, AS bergantung pada China untuk pasokan sekitar 80% tanah jarang.


(fyk/krs)