Senin, 10 Jun 2019 13:01 WIB

Keresahan di Shenzhen Setelah AS Serang 'Kepala Naga'

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kota Shenzhen yang gemerlap. Foto: Getty Images Kota Shenzhen yang gemerlap. Foto: Getty Images
Shenzhen - Di restoran atau kedai kopi di Shenzhen, topik pembicaraan telah bergeser. Tak lagi membahas IPO selanjutnya, merger atau inovasi, melainkan perang dagang Amerika Serikat dan China, khususnya upaya AS untuk menjegal Huawei.

Shenzhen bisa dibilang Silicon Valley-nya China. Raksasa-raksasa teknologi negeri Tirai Bambu termasuk Huawei, Tencent, ZTE sampai pembuat drone DJI bermarkas di sini.

Dikutip detikiNET dari South China Morning Post, dalam 40 tahun ke belakang, Shenzen telah bertransformasi dari wilayah perikanan yang sunyi menjadi perkotaan gemerlap dengan lebih dari 12 juta penduduk yang banyak bekerja di sektor teknologi.




Kini perang dagang membuat beberapa pekerja mulai cemas akan dampaknya. Terlebih setelah AS menyasar Huawei yang disebut sebagai 'Kepala Naga' bagi China.

"Kuncinya adalah Huawei. Huawei adalah perusahaan tunggal paling penting yang berada di puncak, pemimpin dan pusat industri. Ia adalah Kepala Naga bagi kami," sebut seorang pegawai pemerintah Shenzhen yang menolak disebut namanya.

Laporan tahun 2016 mengungkap Huawei adalah kontributor terbesar GDP Shenzhen dengan sumbangan USD 20,6 miliar. Huawei dan para mitranya juga adalah penyedia lapangan kerja terbesar di sana dengan 80 ribu pegawai bekerja di kantor pusatnya di kota itu.
Keresahan di Shenzhen Setelah AS Serang 'Kepala Naga'Kantor Huawei di Shenzhen. Foto: Dok. Huawei

Pemerintah lokal pun berupaya membantu Huawei sebisanya setelah raksasa telekomunikasi itu dipersulit membeli komponen dari AS. "Kami akan memperhatikan yang lain, tapi tentunya fokus upaya kami adalah menolong Huawei," kata pegawai itu.

Shenzhen dan perkotaan di sekitarnya menyediakan rantai suplai bagi manufaktur teknologi semacam Huawei, sehingga aksi AS bisa berdampak besar. Misalnya jika produksi smartphone turun, para pemasok komponen jelas kena pengaruhnya.




"Imbas sanksi pada bisnis ponsel Huawei tidak akan segera terasa karena kebanyakan order sudah dilakukan pada April sampai Juni ini oleh Huawei dan perusahaan besar lain," kata Qiu Dongmin, konsultan dari Defangxin Certified Public Accountants.

"Tapi antara Agustus dan Oktober, suplier biasanya mendapat pesanan tambahan dari Huawei dan manufaktur lain untuk memenuhi permintaan ponsel laris mereka. Itu adalah periode kunci untuk mengamati seluruh rantai suplai di Shenzhen, Dongguan dan Huizhou," tambahnya.

Tahun silam, anggaran pengadaan barang Huawei mencapai USD 70 miliar dengan order pada 13 ribu pemasok domestik dan global. Sebanyak 92 di antaranya adalah suplier penting, termasuk 33 dari AS, 25 dari China, 11 dari Jepang dan 10 dari Taiwan. Bagaimana dampak sanksi Huawei pada para perusahaan itu dan juga perekonomian Shenzhen, waktu yang akan menjawabnya.


(fyk/krs)