Senin, 27 Mei 2019 15:33 WIB

Stok Komponen Huawei Bisa Hadapi Blacklist AS Hingga Setahun

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: David Becker/Getty Images Foto: David Becker/Getty Images
Jakarta - Huawei baru saja dimasukkan ke dalam blacklist perdagangan oleh pemerintah Amerika Serikat. Blacklist ini membuat Huawei kesulitan untuk berbisnis dengan perusahaan AS tanpa persetujuan pemerintah, termasuk membeli komponen untuk jaringan telekomunikasi dan smartphone.

Tapi menurut perusahaan pialang dan investasi CLSA, perusahaan asal China ini memiliki stok komponen yang cukup untuk memastikan bisnis smartphone dan peralatan jaringan 5G mereka aman dari tekanan pemerintah AS hingga akhir tahun ini.




Berdasarkan perkiraan CLSA, bisnis smartphone Huawei saat ini memiliki persediaan yang cukup untuk lima hingga enam bulan. Sedangkan untuk bisnis peralatan jaringan 5G persediaan mereka cukup untuk sembilan hingga 12 bulan.

"Untuk sisa tahun ini, saya pikir perusahaan bisa baik-baik saja dalam hal smartphone dan peralatan jaringan," kata Analis Investasi CLSA Sebastian Hou seperti dikutip detiKINET dari CNBC, Senin (27/5/2019).

"Dalam jangka pendek, mereka masih memiliki persediaan yang cukup untuk bertahan selama periode ini, tapi persediaan tersebut pada akhirnya akan habis. Jadi bagaimana pembicaraan perdagangan ini akan berjalan dalam beberapa bulan ke depan masih sangat penting untuk kelangsungan hidupnya di masa depan," sambungnya.

Hou mengatakan kontribusi terbesar yang disumbangkan untuk memastikan ketersediaan komponen ini datang dari anak perusahaan Huawei HiSilicon yang memproduksi prosesor untuk produk Huawei. Tapi, Hou mengatakan perusahaan yang memegang kunci atas kelangsungan hidup Huawei di masa depan adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

"Tidak peduli betapa hebatnya desain chip HiSilicon, mereka tidak dapat hidup tanpa TSMC, karena TSMC memproduksi semua chip canggih HiSilicon. Ini berarti TSMC sangat penting untuk kelangsungan hidup Huawei dan rencana Trump untuk memblokir Huawei dan China," jelasnya.




TSMC memang telah mengatakan kebijakan baru pemerintah AS tidak akan mempengaruhi bisnis mereka dengan Huawei. Tapi, Hou menjelaskan bahwa TSMC menggunakan peralatan dan hak intelektual dari perusahaan AS untuk memanufaktur prosesor milik klien mereka.

Jika teknologi yang berasal dari AS dalam suatu produk melebihi 25%, maka TSMC harus tunduk pada Regulasi Administrasi Ekspor AS dan akan memerlukan lisensi dari pemerintah AS untuk tetap berbisnis dengan Huawei. Tapi saat ini persentase teknologi asal AS yang ada di produk yang dijual TSMC kepada HiSilicon berada di kisaran 15% hingga 20% sehingga masih aman.


(vim/krs)