Jumat, 24 Mei 2019 19:11 WIB

Inikah Kebijakan Resmi Microsoft buat Huawei?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Logo Microsoft. Foto: Drew Angerer/Getty Images Logo Microsoft. Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta - Tampaknya Microsoft sudah menentukan sikap terhadap Huawei setelah Amerika Serikat memasukkan vendor ponsel asal China tersebut ke dalam daftar hitam. Microsoft disebut akan berhenti menerima pesanan baru dari Huawei, mirip dengan yang dilakukan oleh Google.

Ada dua area bisnis yang diblok dalam hubungan antara Microsoft dengan Huawei. Area pertama meliputi sistem operasi Windows untuk laptop Huawei, sedangkan yang kedua mencakup layanan-layanan yang meliputi konten tersebut. Hal ini diutarakan oleh seorang sumber yang menolak diumbar namanya.




Lebih lanjut, sistem operasi yang sudah tertanam di dalam laptop Huawei tidak akan mendapat dampak dari pembatasan ini. Para penggunanya pun masih akan mendapat pembaruan dan patch keamanan, sebagaimana detikINET kutip dari South China Morning Post, Jumat (24/5/2019).

Hal ini seakan menjawab pertanda-pertanda yang sudah tampak dalam beberapa waktu belakangan. Salah satunya, Microsoft juga sudah tidak lagi menampakkan laptop Huawei di dalam situs resminya.

Selain itu, perusahaan pimpinan Satya Nadella itu menghapus nama Huawei dari katalog penawaran terkait produk hybrid cloud miliknya, yakni Azure Stack. Meski begitu, nama vendor nomor ponsel kedua di dunia masih tampak di situs resmi Azure Stack.




Dengan begini, maka dapat dikatakan Huawei tak lagi bisa menanamkan Android pada ponsel barunya serta Windows di dalam laptop anyarnya. Itu berarti, rencana mereka untuk meluncurkan sistem operasi pengganti Android dan Windows memang harus segera dimatangkan.

Richard Yu, CEO Consumer Business Group Huawei, belum lama ini mengatakan pihaknya akan merilis sistem operasinya sendiri pada Kuartal IV 2019 di China. Sedangkan untuk pasar di luar Negeri Tirai Bambu, sistem operasi tersebut bakal meluncur pada paruh pertama 2020.

Satu yang menarik, sebuah sumber menyebut tindakan Microsoft tidak berarti membuat perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen tak lagi bekerja sama dengan Huawei. Bahkan, hukuman di dalam bisnis antara keduanya bisa jadi hanya sementara sifatnya.



Kemungkinan besar, Microsoft juga bakal ikut menerapkan 'masa transisi' bagi Huawei untuk tetap dapat bekerja sama terkait dengan dua bisnis yang mendapat pembatasan. Hal tersebut sebelumnya diutarakan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat, dan kebijakan tersebut akan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah Huawei ke depan dengan segala penolakan ini. Selain Microsoft, Intel dan Qualcomm juga dilaporkan bakal membekukan pasokannya ke Huawei, sedangkan Google, ARM, dan Panasonic, sudah memastikan membatasi sejumlah bisnisnya dengan Huawei.





(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed