Jumat, 05 Apr 2019 19:39 WIB

Samsung Prediksikan Profitnya Turun Awal Tahun Ini, tapi...

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Samsung memprediksikan bakal mengalami penurunan profit mencapai 60% di awal tahun ini, alias yang terbesar dalam dua tahun terakhir.

Penurunan profit operasi pada Q1 2019 ini diprediksi Samsung akan merosot 60% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah menurunnya penjualan chip memori dan panel layar, serta meningkatnya persaingan di bisnis ponsel.

Samsung sendiri memproduksi chip memori dan panel layar untuk ponsel buatannya sendiri serta Apple. Lalu chip server untuk perusahaan cloud seperti Amazon, dan bisnis semikonduktor ini adalah sumber profit terbesar Samsung untuk saat ini.




Selain profit operasi yang merosot, Samsung juga memperkirakan bakal mengalami penurunan pemasukan sebesar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara total, penjualan Samsung pada Q1 2019 jumlahnya mencapai USD 45,7 miliar, dengan profit operasi sebesar USD 5,5 miliar.

Peluncuran Galaxy S10 sendiri belum bisa banyak membantu memperbaiki kinerja keuangan Samsung pada kuartal tersebut. Pasalnya Galaxy 10 sendiri baru dijual pada beberapa minggu terakhir sebelum kuartal tersebut berakhir.

Ditambah lagi, menurut analis, lini ponsel flagship terbaru Samsung itu sulit mengeruk banyak keuntungan karena biaya inovasi yang tinggi, rendahnya keinginan konsumen untuk mengupgrade ponsel, serta tingginya kompetisi dari para rival Samsung dari China, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (5/4/2019).

Akan tetapi, peneliti investasi dari firma Fitch Ratings juga mengingatkan adanya peningkatan terhadap permintaan chip canggih di sektor otomotif dan industri, dengan Samsung diyakini berada di posisi yang bagus untuk menangguk keuntungan dari hal tersebut. Artinya, performa Samsung diyakini bakal segera membaik.

"Kami percaya pencapaian Samsung sangat mungkin membaik dalam perjalanan menuju akhir tahun," kata analis Fitch, Shelley Jang, dalam pernyataannya ke klien seperti dikutip CNN.com.

(asj/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed